Menurut Ambo, pihaknya memahami segudang jadwal padat bupati setiap pekannya. Namun, selayaknya sebagai anak dan bapak, guru honorer yang tergabung di FGHTK meminta agar mereka juga dipedulikan guna perkembangan dan peningkatan pendidikan di Kukar.
Sulitnya bertemu bupati membuat Ambo dan rekan-rekannya kerap bercanda terkait hobi Edi yang senang berkendara motor trail dengan komunitas.
“Sering saya berucap sama kawan-kawan, apakah kita harus punya motor trail dulu ya biar bisa mudah ketemu dengan Pak Bupati,” selorohnya.
“Tolonglah Pak, temui lah kami anak-anak Bapak yang menjadi guru di kecamatan-kecamatan ini, kami pasti lebih lega jika bisa langsung menyuarakan aspirasi kami bertemu langsung dengan anda,” demikian Dale.
Aspirasi FGHTK antara lain meminta Pemkab mengusulkan kuota serta menyetujui diadakan pengangkatan PPPK 2019, mempertanyakan kembali konsistensi Pemkab dalam pemberian THR bagi guru honor dan tenaga pendidikan di tahun anggaran 2019, menuntut dibuat Perda yang mengatur gaji UMP bagi seluruh tenaga honor, mengusulkan agar tenaga kependidikan, TU, Operator Perpustakaan, Satpam mendapat insentif dan mendesak pemerintah agar mengevaluasi SK THL di atas tahun 2005. Terutama pengabdian yang masih seumur jagung agar tidak merugikan pengabdian puluhan tahun guru yang mengajar di sekolah yang jauh dari ibu kota/kabupaten.
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Muh.Huldi