Polresta Samarinda mengungkap peran dominan R yang diduga menjadi otak pembantaian tersebut dan perkembangan terbaru juga menunjukkan adanya dua saksi kunci yang masih berusia dibawah umur.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar menjelaskan, penyidik belum menemukan hubungan spesial antara J dan R meski isu tersebut sempat mencuat dari keterangan Suimih, korban mutilasi, sebelum meninggal dunia.
“Itu masih terus didalami. Kalau hingga saat ini dua-duanya masih menyampaikan tidak ada hubungan spesial. Tuduhan dari korban kalau mereka berhubungan itu belum ada,” ujar Hendri kepada media Rabu (25/3/2026) hari ini.
Hubungan kedua tersangka sejauh ini hanya sebatas saling mengenal dan R adalah pihak yang mempertemukan korban mutilasi berusia 35 tahun itu dengan suami sirinya. “Yang mengenalkan korban dengan suami siri ini adalah ibu R. Mak comblang,” jelasnya.
Polisi juga sudah mengamankan dua saksi kunci yang merupakan cucu dari R. Kedua anak itu melihat langsung saat J alias W melakukan penganiayaan terhadap korban pada hari kejadian pukul 02.30 WITA dini hari . “Saksi yang kami dapatkan dua orang dan sudah menjadi saksi kunci. Kemudian ada saksi-saksi dari warga sekitar yang juga telah kami periksa,” papar Hendri.
R diduga merancang seluruh rangkaian pembunuhan, sementara J hanya bertindak sebagai eksekutor. “Si ibu itu otaknya. Dia yang menyusun rencana, menyiapkan tempat eksekusi, menentukan pembuangan, hingga peralatan mutilasi,” ucap Hendri.
Motif pembunuhan dipicu sakit hati dan keinginan menguasai barang korban. “Motif sampai sekarang masih sakit hati. Juga ingin menguasai motor dan handphone korban,” tegasnya.
Penyidikan masih berlangsung untuk memperkuat alat bukti dan memastikan seluruh peran tersangka terungkap. Polisi setelah kejadian tersebut langsung meningkatkan pengamanan di sejumlah titik rawan. Patroli diperketat di kawasan perumahan yang ditinggalkan mudik, daerah wisata hingga bantaran Sungai Mahakam. “Tempat-tempat lain yang punya karakteristik khusus pasti juga ada peningkatan eskalasi semuanya,” tutup Hendri.
Editor: Aspian Nur