Barang bukti sabu yang berhasil diamankan mencapai 42 kilogram, meningkat drastis dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekitar 3,9 kilogram. Kenaikan tersebut setara lebih dari 1.600 persen dan menjadi capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala BNNP Kalimantan Timur, Brigjen Pol Rudi Hartono menyebut peningkatan pengungkapan dipicu oleh penguatan personel, intensitas operasi yang lebih tinggi, serta semakin kompleks dan masifnya jaringan peredaran narkoba lintas wilayah.
“Selama ini pengungkapan tertinggi hanya sekitar tiga kilogram per tahun, bahkan pernah 1,7 kilogram. Tapi tahun ini kita bisa mengungkap 42 kilogram. Kenaikannya sekitar 1.650 persen,” ujar Rudi kepada Korankaltim.com Senin (29/12/2025)
Pengungkapan narkotika jenis ekstasi juga melonjak tajam. Kalau pada 2024 hanya tercatat 51 butir, maka pada 2025 meningkat menjadi 684 butir. Di sisi lain, program rehabilitasi rawat inap juga mengalami peningkatan sekitar 11 persen.
Tingginya angka pengungkapan bukan sepenuhnya kabar baik. Banyaknya kasus justru mencerminkan luasnya korban penyalahgunaan narkotika di tengah masyarakat. “Saya justru sedih kalau penangkapan banyak. Itu berarti korbannya juga bertambah. Karena itu ke depan kami tidak hanya fokus penindakan, tetapi juga pencegahan dan rehabilitasi,” tegasnya.
BNNP Kaltim kini mendorong pendekatan demand reduction melalui rehabilitasi dan edukasi. Berdasarkan evaluasi, sekitar 65 hingga 75 persen penghuni lembaga pemasyarakatan merupakan pengguna narkotika.
Dalam upaya pencegahan, BNNP Kaltim menyiapkan Program ANANDA serta memperkuat desa BERSINAR dan kolaborasi lintas sektor. “Kami tidak akan berhenti. Peredaran narkoba selalu berpindah, sehingga konsistensi dan kolaborasi menjadi kunci,” pungkas Rudi.
Editor: Aspian Nur