Kuat dugaan pria berusia 35 tahun itu sengaja mengakhiri hidup dengan cara gantung diri atau bunuh diri. Istri DRS berinisial RA pertama kali menemukan sang suami tergantung dan langsung berteriak histeris. Adik DRS yang mendengar teriakan itu segera keluar rumah dan bergegas melapor kepada ketua RT setempat.
Menurut laporan yang diterima kepolisian, sebelum peristiwa itu terjadi DRS dan istrinya sempat bertengkar Kamis (20/3/2025) tengah malam sekitar pukul 23.30 WITA. Setelah itu DRS turun dari lantai dua rumah dan sempat menanyakan obat kepada adiknya kemudian kembali ke lantai dua dan tidak terlihat lagi oleh keluarganya.
Hingga menjelang dini hari, istrinya mulai curiga karena DRS tak terlihat. Setelah mencari ke beberapa ruangan, ia akhirnya menemukan suaminya dalam keadaan tergantung di belakang rumah. Kejadian ini sontak membuatnya berteriak histeris hingga membuat si adik dan tetangga sekitar keluar rumah.
Keluarga DRS kemudian menurunkan dan membawanya ke UPTD Puskesmas Muara Jawa namun dokter yang bertugas menyatakan DRS sudah meninggal dunia sebelum tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Polsek Muara Jawa yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Berdasarkan pemeriksaan luar yang dilakukan oleh dokter Puskesmas, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Pemeriksaan juga menemukan adanya air seni pada celana almarhum yang sering kali menjadi tanda khas dalam kasus gantung diri akibat refleks tubuh setelah meninggal.
Setelah pemeriksaan selesai, pihak keluarga menyatakan menerima kematian pria tersebut sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan autopsi dengan membuat surat pernyataan resmi kepada kepolisian. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga untuk segera dimakamkan.
Kapolsek Muara Jawa Iptu Muhammad Al Huda menyatakan mereka sudah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap almarhum dan saksi-saksi.
“Kami telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dan saksi-saksi, serta melakukan penyelidikan di TKP. Hasil pemeriksaan visum tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada korban. Kami juga telah membantu pihak keluarga membuat penolakan diadakannya visum dalam atau autopsi,” tuturnya.
Pihak kepolisian mengimbau agar warga lebih peka terhadap tanda-tanda depresi atau tekanan psikologis pada orang terdekat. Jika ada teman, keluarga atau tetangga yang menunjukkan gejala stres berat diharapkan segera mendapat pendampingan atau konsultasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Editor: Aspian Nur