Hal ini diungkapkan Kepala Lapas IIA Tenggarong, Suparman kepada Korankaltim.com Jumat (3/1/2025) hari ini. Dijelaskan Suparman, sejak Januari hingga Desember 2024 lalu Lapas IIA Tenggarong sudah memberantas buta aksara Alquran kepada WBP melalui program keagamaan, serta program peningkatan kualitas karya terampil dengan tujuan meningkatkan jiwa spiritualitas dan pembenahan psikologis.
“Program ini sudah berjalan dan akan berlanjut di tahun 2025 ini, bekerjasama dengan Pemkab Kukar, masuk dalam program Etam Mengaji atau lebih dikenal dengan Gema, yang akan mencakup juga di WBP,” papar Suparman.
Ada 1.400 penghuni Lapas, masuk kategori over capacity alias kelebihan kapasistas sehingga Sebagian WBP harus dipindahkan ke Lapas Samarinda.
Pada tahun 2024 lau Lapas Tenggarong rutin melakukan pemeriksaan di setiap kamar seminggu sekali dan tak jarang pihaknya menemukan barang seperti berupa sendok yang dikikir menjadi senjata tajam. “Memang ada beberapa WBP yang bandel tapi kami rutin Razia dan ini amanah dari pusat,” tegasnya.
Untuk kasus penyelundupan obat-obatan terlarang mereka telah menggagalkan satu kejadian dan pada saat itu diantarkan kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut.
Disisi lain ada program ketahanan pangan berupa budidaya jamur tiram dalam sektor perikanan seperti budidaya ikan gurame dan lele, amanat ini dijalankan sebagaimana mandat presiden Prabowo Subianto menggencarkan pangan di setiap daerah.
“Program ini bukan hanya untuk anggota, tetapi juga dilaksanakan WBP sebagai bentuk keterampilan yang ketika nanti mereka keluar, ada bekal untuk berwira usaha,” jelas Suparman.
Ketika WBP nantinya telah bebas dari Lapas masyarakat diharapkan dapat menerima keberadaannya dan merangkul agar kembali menjadi manusia seutuhnya, tidak ada klaim negatif karena pada dasarnya dukungan dalam lingkungan sosial sangat berperan dalam meningkatkan kualitas hidup bagi seorang yang pernah terpidana.
Editor: Aspian Nur