Area Manager Communication Relation and CSR Patra Niaga Regional Kalimantan Arya Yusa Dwicandra saat dikonfirmasi Korankaltim.com Rabu (24/5/2023) hari ini menjelaskan kalau kantor ekspedisi itu tidak masuk dalam daftar yang disuplai solar oleh Pertamina.
"Kami sudah mendapatkan informasi itu (dugaan penimbunan), apakah solar disuplai dari pertamina atau bukan, dari penelusuran sementara, yang saya terima bukan dari kami," ungkap Arya.
Disinggung soal tempat yang memang layak untuk dilakukan penyimpanan BBM, disebutkannya bukan di tempat yang tertutup. "Seharusnya disimpan bukan di ruangan yang tertutup," ucapnya lagi.
Idealnya BBM itu disimpan di suatu tempat yang memang jauh dari sumber api. "Wadahnya juga harus berbentuk tangki pendam atau tangki luar, yang sesuai spesifikasi atau SOP dari kementerian ESDM, diluar itu tidak diperbolehkan," tegas Arya.
Arya pun mengaku hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan panggilan dari kepolisian, terkait dugaan penimbunan di kantor ekspedisi tersebut. "Kalau sejauh ini belum," sebutnya.
Diketahui pada Minggu (21/5/2023) tiga hari lalu sekitar pukul 10.00 WITA, kantor ekspedisi di Jalan Ampera dilahap api, yang diduga akibat korsleting listrik dari ruang mekanik.
Dalam musibah itu terdapat temuan mengejutkan, ada 7 tandon kotak plastik warna putih berisi BBM jenis Solar dengan kapasitas 1000 liter, dimana dua diantaranya masih terisi penuh solar yang berada di dalam ruangan di lantai satu.
Selain itu, juga terdapat 150 jiriken kosong berkapasitas 35 liter warna biru, yang tertumpuk tepat di depan kantor ekspedisi tersebut.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli saat diwawancara kemarin menyebutkan mereka melakukan pemeriksaan terkait hal ini.
Editor: Aspian Nur