Pengembangan program pembinaan ini menurut Agus semata-mata untuk menambah pengetahuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) saat bebas nanti.
Sementara Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Zairin Zain menyampaikan, hal ini juga sebagai bentuk upaya nyata pihaknya menuju go public. "Inovasi ini tidak semata-mata menambah bekal pengetahuan tapi juga agar program pembinaan kemandirian tidak berjalan stagnan," jelas Zairin.
Pembinaan kemandirian yang dikelola oleh bengkel kerja ini memiliki potensi menyumbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekaligus menjadi concern Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam upaya wujudkan Bengkel Kerja Pemasyarakatan Produktif.
Mereka tidak main-main dalam wujudkan mimpi itu, terbukti juga dengan dilakukannya penandatanganan kerjasama antara Lapas Kelas II A Tenggarong dengan CV Sinar Intan Tenggarong "Kerjasama ini bergerak dalam bidang pelatihan handycraft serta proses penjualan hasil produksinya," ucapnya lagi.
Diharapkan dengan adanya perjanjian kerjasama ini makin meneguhkan Lapas Kelas II A Tenggarong sebagai Lapas Produksi sesuai dengan kategori sebagai Lapas Medium Security.
Terkait kendala dalam pelaksanaan pembinaan kemandirian ini, Agus Dwirijanto menjelaskan kondisi lahan Lapas yang saat ini tidak representatif. "Kondisi itu berpengaruh dalam kegiatan produksi dan pemasaran, sedangkan untuk sarana kami sudah memadai," jelas Agus.
Nantinya Lapas Kelas IIA Tenggarong akan mengembangkan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) yang saat ini bergerak dalam bidang perikanan.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur