"Jadi korban ini awalnya naik dari Pasar Pagi, kemudian dibawa keliling hingga ke jalan Pemuda," tuturnya saat ditemui di Mako Polresta Samarinda, Rabu (13/4/2022).
Untuk modus operandinya sendiri, kawasnan pelaku awalnya menyewa sebuah angkot yang dikemudikan oleh Rival (21) dan mendapatkan korban di Pasar Pagi. Sementara tiga rekannya mengendarai mobil mereka Xenia KT 1573 LA warna hitam.
"Kemudian satu persatu pelaku ini naik ke angkot dan pura-pura tidak saling mengenal. Setelah itu mereka pun menjalankan peran masing-masing," ujarnya.
Pelaku bernama Andi Arul (44) berperan sebagai ahli pengobatan alternatif, di mana merupakan residivis kasus yang sama, kemudian M Rusli (39) sebagai mediator yang meyakinkan korbannya yang juga residivis, sedangkan Hasriadi (20) sebagai sopir angkot dan Rival (21) yang mengemudikan mobil Xenia.
"Salah satu pelaku atas nama Andi mengatakan batu mustika merah delima yang ia bawa bisa menyembukan berbagai penyakit, dan pelaku lainnya membuat korban yakin dengan bujuk rayunya. Kalau batu ini obat diatas segala obat, juga bisa menambah rezeki," ungkapnya.
"Kemudian pelaku mengatakan supaya obatnya lebih manjur harus mensucikan perhiasan, karena katanya penyakit ini ada dua yaitu dari tubuh dan barang bawaan," sambungnya.
Setelah berhasil, pelaku pun langsung melarikan diri dan meninggalkan korban di dalam angkot tersebut, menggunakan mobil yang dikemudikan Rival.
"Perhiasan emas yang diambil 12 gelang ukuran besar dan kecil serta tiga cincin, dengan kerugian berkisar Rp80 jutaan," terangnya.
Hingga pada Selasa (12/4/2022) sekitar pukul 11.00 WITA, keempat pelaku berhasil diamankan di Jl Panglima Batur Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota.
"Saat itu mereka mau mencari sasaran lagi, dan kami amankan barang bukti berupa mobil Xenia KT 1573 LA warna hitam, batu mustika merah delima, amplop coklat kumal berisi enam gelang imitasi, tiga pecahan Rp1.000 dan dua pecahan Rp500, dua buah baut dan pecahan batu," bebernya.
"Sementara emas yang diambil dari korban telah dijual para pelaku, karena kejadian Februari," sambungnya.
Yang jelas komplotan ini sudah lama melakukan aksinya, di berbagai TKP di Samarinda dan di luar Samarinda. "Dia juga beraksi di daerah lain, termasuk Balikpapan dan ini masih kami dalami lagi," pungkasnya.
Penulis: Nancy
Editor: Supiansyah