Agus dan Faisal, dua pemuda yang menjaga pangkalan terlihat keluar dengan kondisi tubuh melepuh karena terkena gas yang meledak, sementara Agus sempat mengalami rabun di bagian mata sehingga tak bisa melihat.
Ternyata suara ledakan itu berasal dari sebuah tabung gas melon ukuran tiga kilogram yang meledak dan menyebarkan gas di dalam ruangan yang ukurannya tidak terlalu besar tersebut.
Letak pangkalan tabung gas berada di rumah toko (ruko) berlantai dua dan tepat ditengah, dihimpit penjual sembako di bagian kanan dan konter handphone di sebelah kiri.
Hanya sebagian barang terlihat berserakan karena terimbas kuatnya ledakan tersebut.
Kepada Korankaltim.com di lokasi kejadian pagi tadi, Iyan, pemilik ruko yang menyewakan rukonya ke keluarga sendiri menjelaskan, tidak ada semburan api saat kejadian hanya tabung gas yang meledak, sehingga tidak ada kebakaran. “Saya kebetulan lagi jaga malam karena rumah saya dekat dengan ruko yang saya sewakan dan dijadikan pangkalan gas elpiji. Saya langsung datang ke tempat kejadian dan melihat Agus dan Faisal kulit mereka melepuh, Agus matanya juga seperti buta karena terkena semburan gas. Saya langsung bawa mereka ke SMC,” papar Iyan.
Dengan cepat Agus yang berusia 22 tahun dan Faisal 26 tahun langsung dilarikan ke Rumah Sakit Samarinda Medika Citra (SMC) di Jalan Kadrie Oening dan langsung mendapat penanganan. “Tidak sampai kehilangan nyawa, langsung ditangani, diperban, karena kulit mereka melepuh,” jelas Iyan lagi.
Pangkalan gas elpiji itu sendiri selain berisi tabung gas tiga kilogram juga 5,5 kilogram dan 12 kilogram. “ Sudah dua tahun ruko dikontrakan ke keluarga saya dan dijadikan pangkalan penjualan gas elpiji, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Namanya musibah ya tidak bisa dihindari, masih beruntung tidak ada api jadi ruko tidak terbakar,” kata pria berkacamata ini.
Hingga berita ini diturunkan, tim Inafis dari Polresta Samarinda bersama relawan masih melakukan penyelidikan terhadap musibah meledaknya tabung gas ini.
Beberapa tabung gas dibawa ke Polresta Samarinda untuk diselidiki lebih lanjut. “Masih dilakukan penyelidikan oleh tim Inafis dan relawan,” jelas Syaiful Anwar, relawan Samarinda.
Editor: Aspian Nur