Tapi ternyata mobil ambulans yang membawa ibunya tersebut tak diperkenankan untuk masuk saat di gerbang masuk hingga mereka pun harus menunggu.
Nah, sekitar 20 menitan kemudian, barulah ambulans yang membawa ibunya tersebut diperkenankan masuk.
"Iya ambulansnya dilarang masuk, dengan alasan rumah sakit penuh, padahal saat itu ibu saya kondisinya sangat memerlukan pertolongan," tuturnya saat ditemui subuh tadi.
Setelah diperkenankan masuk, lagi-lagi pihaknya diadang dua petugas keamanan yang bertugas di IGD, dengan alasan tempat tidur dan oksigen habis.
"Iya pas mau masuk, kami diadang, bilangnya tempat tidur maupun oksigen habis, tetapi tak lama diperbolehkan masuk, tetapi tidak langsung ditangani hingga akhirnya ibu saya meninggal," ujarnya.
"Makanya karena kesal kami keluarga mengamuk dan meminta pertanggungjawaban rumah sakit," sambungnya.
Ia mengaku banyak keanehan yang dilihatnya, mulai dari pintu masuk yang dipalang hingga pintu UGD yang di borgol.
"Kami mau meminta agar jenazah ibu saya dilakukan swab antigen agar bisa meyakinkan warga sekitar rumah di Jalan Suryanata bahwa ibu saya tidak Covid," bebernya.
Namun, pintu gerbang menuju kamar jenazah pun digembok dan kuncinya tidak ditemukan, sehingga hal tersebut pun memancing amarah pihak keluarga.
"Harusnya rumah sakit bisa memberikan pelayanan yang baik kepada warga, apalagi dalam kondisi seperti ini," tandasnya.
Kepala Satpol PP Kaltim Gede Yusa mengatakan jika permasalahan ini hanya karena ada kesalahpahaman. Jadi, tadi pasien sempat ditangani, namun memang kondisi pasien drop, sehingga tidak tertolong.
"Salahpaham saja, karena pasien sempat ditangani pihak rumah sakit, tetapi memang kondisinya sudah drop dan tidak tertolong, sebelum diberikan tindakan medis," ungkapnya.
Ia pun mengatakan kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi rumah sakit lainnya, tak hanya di AWS saja, melainkan rumah sakit lainnya.
"Artinya ini menjadi pelajaran bagi rumah sakit, untuk bisa meningkatkan pelayanannnya," pungkasnya.
Penulis: Nancy
Editor : Bambang Irawan