Tes ini kata Agus merupakan salah satu program unggulan dari pesantren dan diharapkan nantinya semakin banyak santri yang mengikuti kegiatan serupa.
"Tahfidzul qur'an ini merupakan program unggulan, untuk saat ini sebanyak 12 santri yang ikut ujian dan diharapkan kedepannya lebih banyak lagi yang dapat mengikuti program ini," kata Agus.
Ke-12 santri tersebut dalam kesehariannya dibimbing tim pengajar pesantren yang terdiri dari petugas dan ustadz dari luar Lapas yang sekaligus mengisi kegiatan pembinaan kerohanian di dalam Kawasan tersebut.
Kasi Binapi sekaligus pengasuh dari pesantren ini Ahmad Harnadi menuturkan, program pesantren ini adalah inovasi dari Lapas Tenggarong dalam mengoptimalkan pembinaan kerohanian, untuk saat ini kegiatan pesantren dilaksanakan pada pagi dan sore hari yang bertempat di masjid lapas.
"Program pesantren ini adalah bentuk inovasi Lapas Tenggarong dalam mengoptimalkan pembinaan kerohanian bagi warga binaan," kata Harnadi.
Materi program tahfidzul qur'an ini meliputi materi ilmu tajwid dan dan metode membaca al qur'an yang dilaksanakan setiap sore selain materi pelajaran lainnya seperti Fiqih, ilmu tauhid dan akhlak.
Salah satu warga binaan Jumadil yang ikut tes terbuka untuk juz 30 mengungkapkan rasa bahagia karena bisa ikut tes terbuka ini. "Saya sangat bahagia bisa ikut dalam tes ini, karena dapat mengetahui sejauh mana pemahaman saya terhadap ilmu al qur'an," ujar Jumadil.
Pria yang dipidana 5 tahun 6 bulan karena tindak pidana narkotika sejak tahun 2017 ini menambahkan dirinya sangat beruntung bisa menjadi santri di Pesantren Lapas karena bisa jadi bekal jika dirinya bebas kelak.
Pada hari yang sama, pesantren lapas juga mendapatkan bantuan Al Qur'an dan Iqra masing-masing sebanyak 20 buah dan sarung sebanyak 90 buah yang diperuntukkan bagi santri dari Toko Ummi Kutai Barat yang diserahkan secara langsung oleh H. Supriadi dan Hj. Sumini kepada pihak lapas.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur