Wafatnya Ramli pertama kali diketahui juragan dan pemilik kapal, Zainudin dan Hanton.
Kapolres Nunukan AKBP Syaiful Anwar melalui Kasubag Humas Polres Nunukan, AKP M Karyadi mengatakan, awal kejadian bermula saat Ramli sarapan nasi kuning.
“Hanton sempat melihat almarhum saat makan nasi kuning tapi tak lama setelah itu Hanton pergi ke ponton untuk bekerja,” kata Karyadi pagi tadi.
Namun beberapa saat setelah meninggalkan tempat Ramli sarapan, tiba-tiba Zainudin datang menyampaikan kalau Ramli batuk dan muntah darah tiba tiba lemas.
“Jam enam pagi Hanton dan Zainudin melihat Ramli muntah darah dan seperti sudah tidak berdaya. Mereka langsung memanggil mobil untuk mengantar Ramli ke Puskesmas terdekat,” jelasnya
Namun saat mobil tiba 15 menit berselang, ternyata Ramli sudah meninggal dunia. Hanton dan Zainudin langsung melaporkan kejadian itu ke Ketua RT dan meneruskan ke polisi.
Personel Polsek Nunukan yang dipimpin Kapolsek Iptu Supangat dan Wakapolsek Nunukan Iptu Ardiansyah ke lokasi melakukan olah tempat kejadian perkara.
“Selesai dilakukan olah TKP kemudian jenazah korban dibawa ke RSUD Nunukan untuk di lakukan visum. Jam sembilan pagi tadi visumnya selesai,” bebernya.
Dari pengakuan Hanton dan Zainudin, almarhum memang sebelumnya mempunyai riwayat penyakit dalam yang serius. Itu terlihat dari keseharianya kadang mengeluarkan darah saat meludah.
“Almarhum tinggal di perahu ikan milik Hanton yang sandar di bekas ponton samping PLBL Liem Hie Djung. Selama ini dalam kehidupan sehari-hari dia selalu mengeluh kurang enak badan tapi tidak mau berobat ke Puskesmas atau ke rumah sakit di Nunukan,” papar Karyadi.
Saat menangkap ikan pun Ramli mnurut pengakuan Zainudin kerap meminta pulang lebih awal karena merasa tidak enak badan. “Jadi, tidak ada unsur kekerasan atau kejahatan atau pidana. Almarhum sudah dibawa ke rumah pemilik kapal untuk dilakukan pemakaman,” tutup Karyadi
Editor: Aspian Nur