Bahkan sampai menangis. "Iya, biasanya saat salat asar, ibu saya ini minta pulang ke Banjar, itu kambuh penyakitnya. Tetapi, setelah buka puasa itu dia tenang sudah, jadi kami lega lagi," jelas Udin. Setelah beberapa kali terjadi hal seperti itu, namun berakhir dengan sang ibu kembali tenang ketika usai berbuka puasa, Udin pun tenang.
Sayang, hal itu terjadi lagi dan menjadi musabab hilangnya sang ibu. Ia menceritakan bagaimana awal mula, Nenek Nurpah ini tiba-tiba menghilang. Saat itu Udin baru pulang dari bekerja. , Di rumah itu ada anak dan sang ibu.
"Saya datang, dia (Nurpah) duduk di dapur terus saya baring karena capek, tidak lama datang istri saya. Bilangnya mana mama, saya bangun ternyata sudah tidak ada," ungkapnya. Panik menyergap. Udin dengan semua daya yang dia punya terus mencari. Tapi hingga dua hari pencarian, hasil yang didapat nihil.
"Terus kami cari-cari kemana-mana tidak ketemu sudah dua hari, saya dan keluarga lapor ke Polresta Samarinda, terus posting di medsos," sambungnya. Dan ternyata ia mendapatkan kabar jika ada penemuan mayat di sungai dan jenazah sudah ada di rumah sakit dan diminta datang, terkait orang hilang yang diposting di medsos.
"Saat saya lihat ternyata benar ibu saya, dari cincin sama antingnya, saya tahu," tuturnya. Dan memang sepekan sebelum ramadan ia ditelpon oleh sang adik yang berada di Banjarmasin, jika almarhumah ini menangis hendak ke Samarinda. "Dia nangis-nangis bilangnya mau ke Samarinda, makanya saya langsung jemput kesan dan memang ibu saya ini sudah pikun," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya H Nurpah (70) ditemukan mengambang di perairan Sungai Mahakam Minggu (16/5/2021) kemarin sekitar pukul 17.25 WITA oleh kapal yang melintas, tepatnya di kawasan Balik Buaya Kecematan Palaran. Saat ditemukan almarhum dalam kondisi hanya mengenakan bra dan celana panjang, posisi tertelungkup dan masing mengenakan anting dan cincin.[]
Penulis : Nancy
Editor : Rusdi