"Ya, awalnya tidak memperdulikan, tetapi lama-lama kok tidak tahu diri. Jadi, itu lahannya siapa saja dilewatin, kayak punya sendiri, itu termasuk lahan saya juga, waktu itu saya lagi tidak ada, saat pulang kok tanaman herbal saya dilewatin traktor," sambungnya.
"Itu, sampai Februari kemarin mereka bikin lubang, itu masih ada, gak bisa ditutup lagi," imbuhnya. Ia juga menerangkan hingga saat ini memang tak ada keluhan dari warga sekitar, tetapi dampak tersebut justru berimbas pada warga di Gunung Kapur.
"Itu pernah ditinggikan, tapi sekarang banjir lagi, sejak ada kegiatan penambangan. Kalau di sini tidak ada komplain, ibaratnya ya enjoy saja, dapat uang debu lagi," bebernya. Untuk jalur hauling yang digunakan tersebut dikatakannya menggunakan jalan umum dan itu diakuinya secara terang-terangan.
"Waktu awal-awal ya tidak banyak, lama-lama kok banyak dia keruknya. Itu katanya rugi kalau hanya ambil sedikit, makanya sekalian banyak," ungkapnya. "Sebelumnya memang pakai karung, tetapi karena banyak, makanya sekarang pakai dump truk," sambungnya.
Terkait dengan kapan saja pengangkutan emas hitam tersebut, ia tak mengetahui pasti, yang jelas ketika batu sudah menumpuk langsung diangkut. "Tapi biasanya itu malam dibawanya. Siangnya, pengerukan," katanya. Ya, melihat kondisi ini sepertinya belum ada laporan. Dan kalau begini ya sudah tanggung jawab negara. "Ini kan sudah tau ilegal, silakan petugas atau aparat bergerak," pungkasnya.
Penulis : Nancy
Editor : Bambang Irawan