Dari pihak KKP Pelabuhan mendatangi Posko Natal dan Tahun Baru (Natura), bermaksud untuk melaporkan, terkait adanya dugaan pemalsuan surat rapid test, yang telah divalidasi oleh Dinas KKP sebanyak empat lembar, yang dikeluarkan oleh salah satu apotek klinik. Kemudian berdasarkan informasi tersebut, pihaknya langsung melakukan penyelidikan, dengan meminta keterangan dari pihak korban, yang menggunakan surat rapid test tersebut.
Dari pengakuan korban tersebut, surat rapid test palsu ini didapat dari tersangka bernama Ragil, yang merupakan seorang sopir mobil carter dengan rute dari Muara Wahau ke Pelabuhan Samarinda Jalan Yos Sudarso Kelurahan Karang Mumus Samarinda Kota, untuk mengantar penumpang kapal yang akan berangkat ke Pare Pare Sulawesi Selatan (Sulsel).
Dari informasi inilah kemudian, polisi pun langsung mengamankan Ragil saat itu juga di kawasan Kelurahan Selili. "Nah, dari hasil introgasi Ragil, surat rapid test palsu ini diperoleh dari seseorang bernama Gassing yang bertugas untuk meminta KTP dari calon penumpang kapal. Kemudian Gassing mengirimkan foto KTP korbannya ke pelaku lainnya bernama Dodi sebagai otak, yang membuat surat rapid test, setelah selesai, surat rapid palsu ini diambil oleh Gassing," beber Kompol Aldi Minggu (3/1/2021).
Kemudian, petugas melakukan pengembangan dan mengamankan Dodi di kediamannya Jalan Kakap Kelurahan Sungai Dama Kecamatan Samarinda Ilir. "Jadi peran mereka bertiga ini berbeda-beda, untuk Ragil sebagai penghubung, ia meminta kepada calon penumpang ini uang sebesar Rp 150 ribu. Jadi, empat penumpang itu dapat Rp 600 ribu, nah Rp 100 ribu dipotong oleh Ragil dan kemudian Rp 500 ribu diberikan diberikan ke Gassing, yang kemudian uang itu diserahkan ke Dodi, Gassing mengambil untung Rp 15 ribu per orang, karena empat orang jadi dia mengambil Rp60 ribu," terangnya.
"Sedangkan Gassing penghubung Ragil dan Dodi, sementara Dodi sebagai otak dan yang membuat surat rapid palsu. Dodi ini juga ternyata memiliki toko foto copy, sehingga dengan mudah melancarkan aksinya," sambungnya. Lebih lanjut kata dia, berdasarkan pengakuan dari para pelaku, mereka mulai melakukan aksinya tersebut sejak bulan Oktober 2020 lalu hingga terakhir diamankan. "Mereka ini komplotan dan sejak Oktober lalu mulai beraksi," tandasnya.[]
Penulis: Nancy
Editor : Rusdi