Ya, suasana malam Ramadan di lokasi tersebut terlihat berbeda karena ratusan anak muda memadati arena lomba. Sorak penonton terdengar setiap kali pelari melesat di lintasan. Lampu penerangan jalan menjadi saksi semangat para peserta yang datang bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga menunjukkan bakat mereka di bidang atletik.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar mengatakan, ajang ini sengaja digelar pada malam Ramadan karena balap lari sudah menjadi semacam budaya yang sering dilakukan masyarakat, terutama generasi muda, selama bulan suci.
“Kegiatan ini memang sengaja kami laksanakan pada malam bulan suci Ramadan karena kultur masyarakat di Kota Samarinda. Biasanya mereka mengadakan lomba lari secara mandiri,” kata Hendri saat ditemui seusai perlombaan kepada Korankaltim.com.
Lomba yang digelar secara resmi menjadi alternatif agar kegiatan tersebut tetap tertib dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam lomba ini, Polresta Samarinda bekerja sama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Samarinda serta berbagai instansi terkait. “Pendaftaran mencapai lebih dari 200 orang, terdiri dari sekitar 160 peserta putra dan 40 putri dalam beberapa kategori perlombaan yang sudah disusun panitia,” jelas Hendri.
Selain menjadi ajang kompetisi, lomba ini juga diharapkan menjadi sarana menjaring bibit atlet muda di Samarinda. Pihak Dispora bahkan menugaskan bidang terkait untuk memantau potensi atletik yang muncul dari perlombaan tersebut.
“Kami harapkan dari kegiatan ini bisa menjaring bakat-bakat generasi muda yang memiliki kemampuan di bidang atletik sehingga bisa dibina dan nantinya membawa prestasi untuk Kota Samarinda, baik di tingkat provinsi maupun nasional,” sebutnya.
Melihat antusiasme peserta dan penonton yang tetap ramai meski sempat diguyur hujan, Hendri berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan ke depan.
“Kalau kegiatan seperti ini dibuat secara resmi dengan izin dan melibatkan instansi terkait, tentu akan lebih bermanfaat. Selain tertib, juga bisa melahirkan atlet-atlet yang membanggakan Kota Samarinda,” ucap Hendri.
Diantara ratusan peserta yang berlomba, nama Aisyah Mahya muncul sebagai juara pertama kategori umum putri. Gadis asal Samarinda itu mengaku tak menyangka bisa berdiri di podium tertinggi. “Senang dan bangga sama diri sendiri,” ujarnya singkat dengan senyum lebar.
Menariknya, Aisyah mengaku mengikuti lomba tanpa persiapan khusus, hanya berbekal keyakinan pada dirinya sendiri. “Tidak ada persiapan, yang penting yakin saja sama diri sendiri. Saya juga sebenarnya tidak berekspektasi juara, tapi percaya diri saja,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur