“Saya prihatin, kenapa hal seperti itu (kekerasan) bisa terjadi, padahal sudah sejak lama digaungkan kalau warisan terbesar dari olahraga itu adalah persahabatan dan hanya orang-orang sombong yang tidak mau bersahabat,” kata Husry kepada Korankaltim.com Selasa (1/2/2022) hari ini.
Husry mengaku heran kenapa dalam forum resmi seperti itu bisa terjadi aksi kekerasan yang jadi gambaran dari permusuhan.
“Ini harus diperbaiki ke depan, karena dimana-mana kalau bertanding di arena olahraga, tidak bermaksud untuk berkelahi atau bermusuhan, tapi berkompetisi untuk meraih prestasi hasil dari latihan. Setelah berkompetisi berpelukan sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan,” papar Husry.
Hanya saja dalam Rakerprov KONI di Kaltim tahun 2022 ini hal itu tidak terjadi dan baru sekali dalam sejarah olahraga Kaltim khususnya rapat KONI terjadi keributan di dalam forum resmi.
“Kedepan harus mengkoreksi diri dalam manajemennya, jangan sampai dikembangkan hal-hal yang bersifat permusuhan. Berbeda biasa di demokrasi, apalagi itu forum resmi dimana anggota diundang bermusyawarah tapi karena perbedaan berubah jadi kemarahan yang diluapkan dalam aksi kekerasan,” sebutnya.
Apa yang terjadi di Rakerprov itu menurut Husry jadi tanggungjawab ketua KONI Kaltim. “Ketua yang terpilih nanti dengan apa yang ada sekarang harus memperbaiki jangan sampai terulang lagi apalagi itu dilakukan oleh pengurus KONI Kaltim sendiri,” ucap Husry.
Seperti diketahui, dalam Rakerprov itu seorang peserta Rakerprov dari Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti Kaltim) Sugeng Mochdar mendapat perilaku tidak menyenangkan oleh pengurus KONI Kaltim yang notabene bagian dari panitia pelaksana. Sugeng dianggap memprovokasi dengan menyebut tata tertib yang akan dipakai saat Musyawarat Provinsi (Musprov) KONI Kaltim 22 Februari yang mencari ketua umum baru direkayasa yang memantik emosi hingga terjadi pemukulan terhadap Sugeng.
“Saya sedih kenapa itu harus terjadi. Itu tidak boleh dibiarkan. Ketua KONI harus membenahi dan memberikan sanksi kepada pelaku yang menimbulkan kericuhan atau kekerasan dalam forum itu karena selama saya berkecimpung di dunia olahraga tidak pernah terjadi, bahkan terdengar pun tidak pernah, ada aksi pukul memukul dalam musyawarah seperti itu,” jelas mantan Ketua Umum PJSI (Judo) Kaltim dan PDBI (Drum Band) Kaltim ini.
Sangat disayangkan Husry di akhir kepemimpinan ketua KONI Kaltim saat ini harus dicederai dengan insiden pemukulan. “Padahal harusnya bisa mengakhiri jabatan dengan manis setelah 10 tahun memimpin KONI Kaltim, bukan dengan noda berupa kericuhan di forum resmi seperti Rakerprov,” tegasnya.
Husry berharap semua pihak yang terlibat di olahraga utamanya KONI Kaltim tidak hanya membangun prestasi tapi juga persaudaraan atau persahabatan.
“Hal lain terkait rencana pemilihan ketua KONI yang baru jangan dijadikan arena permusuhan, jadikan arena kompetisi, yang terbaik yang akan terpilih. Sportivitas harus ditegakkan dan para tokoh olahraga baik di KONI maupun di luar KONI harus bisa membiarkan sumbangan pemikiran, jangan membiarkan kondisi yang ada seperti sekarang ini terjadi,” ucap Husry.
Pemilihan Ketua KONI Kaltim diharapkannya berlangsung demokratis dan bisa diikuti calon yang berkomitmen memajukan olahraga di Kaltim.
"Soal syarat dukungan 30 persen, kalau memang merasa kuat, kenapa takut memberi kesempatan tanding ke calon lain? Kehadiran pesaing tandingan menghilangkan azas tunggal dan menandakan ada demokrasi di KONI Kaltim. Kalau hanya satu calon, itu bukan demokrasi. Yang pasti, siapapun yang menang nanti, harus didukung," paparnya.
Secara pribadi Husry tak setuju dengan aksi kekerasan di olahraga, jangankan kekerasan fisik, kekerasan mengemukakan pendapat dengan berteriak pun disebut Husry sangat tidak patut dilakukan apalagi di sebuah forum resmi.
“Itu sama saja tidak saling menghargai orang yang berbeda pendapat. Pesan saya, bangun persahabatan, jangan kedepankan kesombongan. Semoga apa yang terjadi bisa menyadarkan kita semua dan bisa menjadi dasar membangun prestasi lebih baik di masa mendatang,” pungkas Husry. (*/kk)
Editor: Aspian Nur