Kericuhan sempat mewarnai Musyawarah Provinsi (Musprov) yang berlangsung Sabtu (4/12/2021) kemarin di Kantor Perumdam IPA Cendana Jalan Cendana, Teluk Lerong Ulu.
Pelatih dan atlet kecewa karena selama menjalani TC Mandiri di Bekasi mereka tak pernah mendapatkan perhatian pengprov.
"Iya, selama kami TC di Bekasi tidak ada perhatiannya, kami disana biaya pribadi saya dan hak atlet dan pelatih berupa uang saku dipotong sekitar 15 persen, tidak ada kejelasan untuk apa, itu pun terkadang ada keterlambatan," ungkap pelatih sepatu roda Kaltim Karta Wibawa disela musprov kemarin.
"Selama ini kami diam ingin membuktikan saat di PON Papua, kami bisa memberikan yang terbaik dan Alhamdulillah kami berhasil membawa 1 emas dan 4 perak. Artinya, dengan kondisi saat ini pun kami bisa berprestasi, apalagi jika dengan gaji yang full dan perhatian yang lebih baik, sehingga kami berharap untuk tonggak ketua harus diganti," tegas Karta lagi.
Karena itulah sejatinya Karta Wibawa dan atlet yang berlaga di PON XX/2021 Papua lalu tak menginginkan Ali Rachman kembali memimpin Perserosi Kaltim.
Kekecewaan juga disampaikan Ketua Pengkab Perserosi Kutai Timur Irma Yuinda. Menuruk Irma, mereka datang ke Samarinda hanya menerima undangan saja dan tak mengetahui adanya penjaringan dan penyaringan bakal calon ketua.
"Kami diundang dua hari sebelum pelaksanaan musprov, yang jelas siapapun yang maju kami pasti dukung jika tahu siapa calonnya, sedangkan ini kami tidak tahu, hanya sekedar undangan saja, untuk itu sampai saat ini kami belum memberikan dukungan kepada siapa pun," tegas Irma.
"Pengkap Perserosi Kutim berpegang pada AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) yang ada, artinya mendukung jika memang tahu siapa calonnya, sehingga hasil musprov ini setidaknya harus ditinjau ulang atau evaluasi dan kembali ke KONI Kaltim sebagai induknya," sebut Irman lagi.
Sekretaris Umum Perserosi Berau Irfan Rinaldi mengungkapkan hal sama. Menurutnya, kalau musprov sesuai dengan aturan di AD/ART, pastinya tidak menjadi masalah.
"Secara pribadi dan orang-orang yang berorganisasi, sebenarnya saya malu dengan mekanisme pemilihan yang dilakukan terlalu pendek. Tidak ada tahapan-tahapan yang memberikan calon-calon lain untuk bisa maju, kan negara demokrasi bebas bersuara atau maju dalam hal apapun," sebut Irfan.
"Makanya kami dari Berau menilai kekeliruannya itu di AD/ART, harusnya H-7 (tujuh hari sebelum pelaksanaan) undangan sudah diterima, sedangkan ini dua hari sebelum pelaksanaan baru diterima," ungkap Irfan.
Karena itu Perserosi Berau saat ini belum memberikan dukungan ke siapapun, hal berbeda kalau ada penjaringan dan penyaringan.
"Disini diluar dari pengurus daerah, dari PB Perserosi ada dukungannya, ini membuat kami bertanya-tanya, kan jelas itu tidak ada dalam AD/ART suara PB. Nah, kalau soal sah atau tidaknya kami serahkan ke KONI Kaltim, karena AD/ART ini kan turunan dari KONI," paparnya.
Irfan berharap hasil musprov ini perlu dilakukan peninjauan ulang, mulai proses penjaringan dan penyaringan.
"Proses dari awal musprov perlu dievaluasi dan itu KONI Kaltim yang lebih tahu, sehingga kedepannya tidak ada permasalahan lain, apalagi akan ada Porprov tahun depan di Berau," tegasnya.
Menanggap hal ini Ali Rachman mengaku memang dalam pelaksanaan musprov tersebut sempat terjadi ketegangan.
"Alhamdulillah sudah selesai, memang penuh dengan dinamika-dinamika, namanya juga musprov biasalah yang seperti itu, beda pandangan maupun pendapat, tetapi sudah kami rembukkan dengan menyelesaian secara kekeluargaan," papar Ali Rachman.
Terkait bagaimana proses penjaringan dan menyaringan, Ali mengaku proses tersebut telah dilakukan dan hanya satu orang yang mendaftar yakni dirinya sendiri.
"Mulai pendaftaran dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan, ada yang mendaftar diverifikasi tim penjaringan, dan itu hanya satu calon saja. Memang ada satu yang mau mencalonkan, tetapi hanya komunikasi melalui via telepon saja ke tim penjaringan, tetapi tidak mendaftar langsung," beber Ali.
Sehingga, dengan berbagai polemik yang ada ia pun mengaku jika hasil Musprov Perserosi tersebut telah menetapkan dirinya terpilih secara aklamasi, karena calon tunggal.
"Iya, saya terpilih aklamasi, sudah ketemu dengan calon yang mau diusung, saya bilang kenapa tidak berkolaborasi saja, kan niatnya sama-sama memajukan sepatu roda, ya sudah, artinya tidak ada masalah," papar Ali.
Kembali disinggung soal pelaksanaan musprov yang dinilai tak sesuai AD/ART tersebut, Ali menyebutkan terkait undangan yang diberikan ke pengurus kota dan kabupaten dua hari sebelum pelaksanaan hal ini dikarenakan pihaknya diminta KONI Kaltim untuk mempercepat pelaksanaan musprov sebelum masa jabaran habis Februari 2022 mendatang.
"Kami diminta untuk melakukan percepatan pelaksanaan musprov oleh KONI Kaltim, dan ini sebelumnya pernah didiskusikan dengan ketua umum dan wakilnya, masalah masa jabatan yang habis pada Februari 2022 mendatang, diminta secepatnya dilaksanakan," jelasnya.
Jika terkait persoalan protes pelatih dan atlet yang enggan dirinya kembali menjabat sebagai Ketua Perserosi Kaltim, Ali menyikapi secara santai.
"Itu tidak ada masalah buat saya, artinya apa yang diproteskan tinggal bersurat atau dengan data-data silahkan saja disampaikan, tinggal dikroscek pemasukannya dan pengeluarannya berapa," tutupnya.
Penulis: Nancy
Editor: Aspian Nur