Kota yang terletak di Lembah Sungai Rhine ini adalah satu dari beberapa kota penghasil buah-buahan dan sayuran yang terus berkembang di seluruh dunia.
Dilansir dari The Washington Post Selasa (11/10/2022) hari ini, sejak meluncurkan inisiatif tahun 2010 lalu sebagai kota yang bisa dimakan, tidak pernah ada masalah dengan siapa saja yang mengambil lebih dari yang mereka perlukan.
Terlepas dari apakah seseorang mengambil satu buah pir atau sekantong penuh kentang dan artichoke, tumbuhan yang bisa dimakan, ada lebih dari cukup produk untuk dibagikan setiap tahun kepada setiap orang.
"Banyak orang di sini sangat bangga ketika berbicara tentang kota kami yang dapat dimakan," kata Bettina Schneider, koordinator tim kota untuk Edible City Network atau Jaringan Kota yang Dapat Dimakan di Andernach.
Pria berusia 29 tahun itu mengungkapkan taman dan kebun umum Andernach juga telah menginspirasi kota-kota lain di Jerman dan di seluruh Uni Eropa untuk mengikutinya.
Saat ini, Jaringan Kota yang Dapat Dimakan, kelompok yang terdiri dari sekitar 150 kota di seluruh dunia dengan pohon buah-buahan dan kebun sayur di tempat umum yang dapat diakses siapa saja secara gratis, didanai oleh Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa.
Menurut Schneider, tanah yang diubah menjadi kebun buah-buahan di Andernach sebelumnya ditumbuhi semak dan tidak terawat. Sekarang, di dalam parit abad pertengahan bahkan parit di dalam kota pun ditutupi dengan pohon persik, almond dan pir. Ruang kosong di dekat sekolah juga telah diubah menjadi petak sayuran komunitas.
Marisa Pettit, koordinator Edible Cities menjelaskan, setiap organisasi mitra dalam proyek ini menerima dana dari anggaran UE untuk melaksanakan pekerjaan mereka.
Beberapa kota juga telah menerima dana untuk apa yang disebut Edible Cities sebagai laboratorium hidup, yang merupakan ruang hijau dimana penduduk dapat mengadakan acara komunitas dan mengembangkan rencana mereka sendiri untuk membantu taman kota mereka berkembang dan menghasilkan panen yang melimpah.
"Ruang publik hijau alami di kota-kota sangat berharga, terlebih saat suhu naik dan kota-kota menjadi lebih padat penduduknya," kata Ina Säumel, peneliti utama untuk Jaringan Kota yang Dapat Dimakan.
Tujuan Edible Cities adalah untuk mendorong orang untuk terlibat dalam taman kota mereka daripada hanya menganggapnya sebagai tempat yang pasif. Banyak kota di Amerika Serikat juga telah meluncurkan proyek serupa.
Ada lahan publik dari Seattle hingga Carolina Utara di mana orang dipersilakan untuk memetik dan mengambil dari pohon dan semak yang sedang berbuah.
Sementara Detroit memiliki gerakan pertanian perkotaan, Philadelphia memiliki hutan pangan dan Atlanta serta Los Angeles adalah rumah bagi proyek komunitas yang dapat dimakan.
Kota-kota kecil seperti Bloomington di Indiana dan Hyattsville di Maryland juga memiliki pohon buah-buahan dan kebun sayur yang dapat diakses oleh siapa saja. "Siapa pun bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, kapan pun mereka menginginkannya," kata Lynx Bergdahl, pengorganisir komunitas di Bountiful Cities, organisasi nirlaba yang membantu mengelola Dr. George Washington Carver Edible Park di Asheville, North Carolina.
"Ini tentang menghilangkan sebanyak mungkin penghalang untuk menciptakan akses pangan publik, apakah seseorang menginginkan satu apel atau seluruh keranjang," sebutnya.
Di Seattle, Beacon Food Forest baru-baru ini merayakan hari jadinya yang ke-10 sebagai taman komunitas yang beragam. "Kami memiliki tujuh hektar untuk dikerjakan dan sejauh ini kami telah menggunakan sekitar setengahnya," jelas Elise Evans, salah satu sukarelawan proyek.
Editor: Aspian Nur