Museum Batu Bara memiliki beragam koleksi dan fasilitas yang bisa menjadi wisata edukasi bagi masyarakat. Di dalamnya ada jenis-jenis batu bara, ruang kereta bawah tanah, alat-alat tambang yang digunakan pada masa lalu, ruang theater audio visual hingga sejarah pimpinan Bukit Asam dari masa ke masa.
Menurut Andwie, di museum ini para pengunjung dapat mengetahui sejarah pertambangan batu bara dari era kolonial sampai saat ini. Alat-alat berteknologi canggih seperti layar sentuh menyajikan beragam informasi mengenai pertambangan batu bara.
Selain itu, kereta akan membawa pengunjung serasa di dalam tambang bawah tanah. Terowongan yang dilalui kereta dilengkapi dengan diorama untuk menggambarkan suasana pertambangan batu bara.
Nantinya, menurut Andwie, akan dibangun beberapa destinasi wisata lain di komplek seluas 4,5 hektare itu. Arena-arena tersebut antara lain Goa Coal Park, Kolam Wisata, Gedung Seni, Gedung Pusat Kuliner, Plaza Air Mancur dan beberapa miniatur ciri khas daerah Sumsel seperti Miniatur Benteng Kuto Besak, Pagoda Pulo Kemaro, Masjid Agung Palembang, Monpera dan sebagainya. Komplek itu didesain untuk menampung wisatawan sekitar 200-300 orang per hari.
Tak hanya museum, Andwie mengatakan PTBA sebelumnya telah membangun berbagai infrastruktur untuk mewujudkan cita-cita Tanjung Enim Kota Wisata, seperti Mini Zoo dan Jogging Track Tanjung Enim. "Hadirnya museum ini juga bentuk dukungan kami atas program Tanjung Enim Kota Wisata,” kata dia.
Sumber: Tempo.co
Editor: Maruly Zainuddin