Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya sisa-sisa fosil dinosaurus terbang itu di Argentina.
Sebuah tim ahli paleontologi menemukan fosil Thanatosdrakon amaru yang baru ditemukan di pegunungan Andes di provinsi Mendoza Barat, Argentina.
Pemimpin proyek Leonardo Ortiz mengatakan karakteristik fosil yang belum pernah terlihat sebelumnya membutuhkan nama genus dan spesies baru, dengan yang terakhir menggabungkan kata Yunani kuno untuk kematian (thanatos) dan naga (drakon). “Tampaknya tepat untuk menamakannya seperti itu,” kata Ortiz, dari Universitas Nasional Cuyo di Mendoza.
Dari fosil itu diketahu kalau dinosaurus terbang memiliki lebar sayap lebih dari 30 kaki atau seukuran denga sebuah bus sekolah. Para peneliti menemukan sekitar 40 tulang dan fragmen tubuh dinosaurus bersayap raksasa itu.
Seperti burung modern, Naga Kematian memiliki tulang berongga tetapi binatang ini lebih mirip reptil karena berdarah dingin.
"Kami tidak memiliki catatan terkini tentang kerabat dekat yang bahkan memiliki modifikasi tubuh yang mirip dengan binatang buas ini," kata Ortiz dilansir dari laman Dailymail.co.uk Kamis (26/5/2022) hari ini.
Pterosaurus, dinosaurus dari keluarga yang sama dengan Naga Kematian ini adalah makhluk pertama setelah serangga yang mengembangkan penerbangan bertenaga.
Menariknya, sedimen tempat tulang-tulang yang baru ditemukan itu diketahui sudah berusia sekitar 86 juta tahun.
Dinosaurus punah 66 juta tahun yang lalu ketika sebuah meteor selebar tujuh setengah mil bertabrakan dengan Bumi di dekat Semenanjung Yucatan.
Itu berarti Naga Kematian ini ada di langit sekitar 20 juta tahun sebelum kepunahan massal dinosaurus.
Ciri-ciri Dragon of Death sangat unik sehingga Ortiz dan timnya harus memberi nama ilmiah baru kepada binatang itu.
"Pada dasarnya, karakteristik ini ditemukan di tulang belakang dan anggota badan. Ini memungkinkan kami untuk membangun spesies baru pterosaurus," kata Ortiz.
Fosil dinosaurus pertama ditemukan dan diakui sebagai binatang prasejarah hanya 200 tahun yang lalu di Sussex, Inggris.
Berabad-abad sebelumnya, seorang profesor kimia Inggris menemukan tulang paha dinosaurus yang sebelumnya dikira milik manusia raksasa.
Editor: Aspian Nur