Ya, tahun 2025 mendatang, untuk pertama kalinya di dunia, akan ada kota yang semua aktivitasnya berada di atas laut, berlokasi di Busan, Korea Selatan, yang mengandalkan tenaga surya atau matahari sebagai sumber energy utama.
Dilansir dari laman Dailymail.co.uk Sabtu (30/4/2022) hari ini, sebenarnya ide kota terapung awalnya dianggap seperti konsep dari film fiksi ilmiah blockbuster terbaru, namun para ilmuwan yang didukung oleh PBB bersiap untuk membangun prototipe kota terapung ini.
Proyek yang diberi nama OCEANIX, sebenarnya sudah diumumkan sejak tahun lalu, tetapi saat itu hanya dalam angan karena tidak ada gambaran desain yang akan diolah. Baru tahun 2022 ini maket kota terapung itu dipublikasikan.
Proyek itu menunjukkan bagaimana platform yang saling berhubungan akan mencakup total 15,5 hektar, dengan ruang yang cukup untuk menampung 12.000 orang, diperkirakan menelan biaya $200 juta (£150 juta) atau setara dengan Rp2.9 triliun, selesai pada tahun 2025.
“Kami berada di jalur yang tepat untuk menghadirkan OCEANIX Busan dan menunjukkan infrastruktur terapung dapat menciptakan lahan baru bagi kota-kota pesisir yang mencari cara berkelanjutan untuk berkembang ke lautan, sambil beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut,” kata Philipp Hofmann, CEO OCEANIX.
Proyek ini bertujuan untuk membantu orang-orang yang tinggal di daerah pesisir, yang komunitasnya berisiko musnah di tengah naiknya permukaan laut.
Menurut OCEANIX, dua dari lima orang di seluruh dunia tinggal dalam jarak 62 mil (100 kilometer) dari pantai, dengan banjir telah memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
“Lingkungan maritim modular OCEANIX akan menjadi prototipe untuk kota-kota yang berkelanjutan dan tangguh,” kata Bjarke Ingels, Pendiri dan Direktur Kreatif Grup BIG-Bjarke Ingels, yang merupakan beberapa arsitek utama dalam proyek tersebut.
'Sebagai manifestasi pertama dari bentuk baru urbanisme yang ditularkan melalui air, OCEANIX Busan akan memperluas karakter dan budaya kota yang unik dari lahan kering ke perairan di sekitarnya,” paparnya.
“Kami percaya platform terapung OCEANIX dapat dikembangkan dalam skala besar untuk berfungsi sebagai fondasi bagi komunitas tangguh di masa depan di lokasi pesisir yang paling rentan di garis depan perubahan iklim,” tegasnya.
Kota terapung ini akan terletak di atas laguna biru yang menakjubkan, terbentuk dari platform yang saling berhubungan seluas 15,5 hektar, dihubungkan oleh jembatan.
Kota terapung dibagi menjadi lingkungan yang berbeda, terdiri dari tempat tinggal, penelitian dan penginapan, yang tercakup dalam bangunan bertingkat rendah.
Semua struktur yang dibangun berada di bawah tujuh lantai untuk menciptakan pusat gravitasi rendah dan menahan angi.
Musim panas di Busan sering kali panas dan lembap, sehingga atap bangunan akan memaksimalkan area yang teduh di bagian dalam, memberikan kenyamanan dan menurunkan biaya pendinginan sambil memaksimalkan area atap untuk menangkap sinar matahari.
Pada iterasi awal, kota ini akan memiliki ruang untuk menampung 12.000 penduduk dan pengunjung.
Namun menurut pengembang, di masa depan kota terapung dapat diperluas untuk menampung lebih dari 100.000 orang.
Setiap pulau akan berbentuk heksagonal dan mengandung lapisan batu kapur yang dua hingga tiga kali lebih keras dari beton, tetapi tetap bisa terapung, menurut Business Insider.
Di bawah setiap platform dapat digunakan untuk memelihara kerang, rumput laut atau makanan laut lainnya, sedangkan limbah dari ikan dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
“Penduduk harus hidup dari pola makan nabati yang utama,” kata Oceanix. “Dengan begitu akan mengurangi beban pada sumber daya ruang, energi dan air,” ujar mereka lagi.
Fitur utama lainnya termasuk rumah kaca dan enam sistem terintegrasi – nol limbah dan sistem sirkular, sistem air loop tertutup, makanan, energi nol bersih, mobilitas inovatif dan regenerasi habitat pesisir.
"Sistem interkoneksi ini akan menghasilkan 100 persen energi operasional yang dibutuhkan di lokasi melalui panel fotovoltaik terapung dan atap," OCEANIX menjelaskan dalam sebuah pernyataan.
“Setiap lingkungan akan merawat dan mengisi kembali airnya sendiri, mengurangi dan mendaur ulang sumber daya, dan menyediakan pertanian perkotaan yang inovatif,” sebut mereka
Pembangunan kota terapung terwujud lewat perjanjian bersejarah yang ditandatangani oleh Kota Metropolitan Busan dari Republik Korea, UN-Habitat dan perancang New York Oceanix.
Masih belum jelas apakah penduduk akan dikenakan biaya untuk tinggal di sana, atau berapa biaya sewanya.
Rilis desain baru datang tak lama setelah laporan yang didukung Komisi Eropa memperingatkan permukaan laut global naik 0,12 inci per tahun.
Ini adalah Laporan Ocean State kelima yang diterbitkan oleh Copernicus Marine Service, menggunakan kombinasi pengamatan satelit, pengukuran di lokasi laut yang berbeda di seluruh dunia, dan model komputer.
Para ahli menemukan lautan yang memanas dan es yang mencair telah menyebabkan permukaan laut naik 0,12 inci per tahun, lebih tinggi daripada yang pernah terlihat dalam satu abad terakhir, hal mana yang jadi satu diantara latarbelakang dibangunnya kota terapung ini.
Editor: Aspian Nur