“Saya mengajak umat Islam untuk menjadikan peringatan Nuzulul Quran ini sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dalam keragaman yang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan negeri dan bangsa yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” kata Joko Widodo dilansir dari laman Kemenang.go.id.
Kegiatan berlangsung secara hybrid dan dipusatkan di Auditorium HM Rasjidi Kementerian Agama.
“Sebagai bangsa yang berketuhanan, kita semua dituntut untuk percaya dan beriman kepada Tuhan Yang maha Esa. Konsekuensi dari beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah kita harus menerima dengan lapang dada bahwa keberagaman ini merupakan kehendak Allah,” ujar Joko Widodo.
Menurutnya, Alquran menegaskan keanekaragaman makhluk Tuhan pada hakikatnya merupakan sunnatullah, ketetapan dan skenario Allah. Keberagaman yang merupakan anugerah dari Allah harus terus dijaga, dirawat, dan dikelola dengan baik agar terjadi perjumpaan, yaitu membangun kebersamaan dalam dialog-dialog yang sehat dengan semangat saling melengkapi dan memperkaya satu dengan yang lain. “Kita harus menyadari masing-masing elemen bangsa yang beranekaragam memiliki kebaikan dan kelebihannya sendiri-sendiri. Jangan sampai ada di antara kita yang merasa lebih baik dari yang lain atau bahkan lebih suci dari yang lain,” paparnya.
Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Menteri Kabinet Indonesia Maju dan sejumlah pimpinan Lembaga, Duta Besar sejumlah negara sahabat, serta Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia ikut bergabung dalam kegiatan ini.
Hadir secara luring Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, para Staf Ahli, Staf Khusus dan Tenaga Ahli Menag serta Penasihat DWP Kemenag RI Eny Retno Yaqut.
Sebagai penceramah, Wakil Ketua Umum PBNU KH Hamdan Zulfa yang membahas tentang Kerukunan dan Keberagaman Perspektif Al Quran. Doa dipanjatkan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar.
Editor: Aspian Nur