Sebuah laporan oleh Organisation for Security and Cooperation atau Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa yang menganggap Rusia sebagai anggota, mengatakan ada pola yang jelas dari kejahatan perang Rusia termasuk penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan dimana para korban dimakamkan di tempat tersebut.
Itu terjadi ketika para pejabat mengungkapkan setidaknya 25 wanita, termasuk seorang gadis berusia 14 tahun, telah diperkosa oleh pasukan pendudukan.
Jaksa Kepala Pengadilan Kriminal Internasional Karim Khan mengatakan Ukraina sekarang menjadi lokasi pembantaian.
Dan Presiden AS Joe Biden untuk pertama kalinya menuduh Rusia melakukan genosida alias pembantaian secara besar-besaran. "Ya, saya menyebutnya genosida," ujar Biden dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (14/4/2022) hari ini. “Semakin jelas Putin hanya mencoba untuk menghapus gagasan bahkan untuk bisa menjadi seorang Ukraina,” paparnya.
Sudah pun menyangkal dan menyebut kalau makam 400 warga sipil itu hoaks, pada akhirnya panel ahli Objective Structured Clinical Examination (OSCE) atau uji klinis mengatakan mereka telah menemukan bukti yang kredibel tentang kejahatan perang Rusia.
Mereka menuduh pasukan Rusia sengaja membombardir rumah sakit, termasuk ruang ibu dan bayi di kota pelabuhan Mariupol dan menemukan bukti deportasi paksa ke Rusia dan kegagalan untuk membuka koridor kemanusiaan.
“Pasukan Rusia telah terlibat dalam pola kerusakan yang meluas dan sistematis terhadap fasilitas kesehatan Ukraina dengan pemboman sembarangan dan dalam beberapa kasus penargetan yang disengaja,” ujar mereka.
“Dengan sengaja mengarahkan serangan terhadap rumah sakit dan tempat-tempat di mana orang sakit dan terluka dikumpulkan adalah kejahatan perang,” tegas OSCE lagi.
Kantor Luar Negeri mengatakan Rusia menghadapi bukti yang meningkat dari kekejaman, termasuk kekerasan seksual, yang dilakukan oleh pasukannya. "Mereka (Rusia) yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban," sebut mereka.
Meski laporan OSCE juga menemukan pelanggaran terjadi di pihak Ukraina, namun pelanggaran yang dilakukan oleh Rusia jauh lebih besar dalam skala dan sifatnya.
Para pejabat Ukraina mengatakan lebih dari 700 orang telah tewas di pinggiran kota Kyiv dan sedikitnya 200 orang masih hilang setelah pasukan Rusia mundur.
Mereka memperingatkan jumlah korban akan meningkat saat tim penyelamat menyaring puing-puing dan korban selamat memberikan bukti.
Di desa selatan Pravdyne, tentara Rusia dituduh menembak enam pria dan satu wanita sebelum meledakkan rumah mereka untuk menyembunyikan barang bukti kemarin.
Itu terjadi di tengah kekhawatiran pasukan Rusia akan melancarkan pembantaian kedua, dengan serangan besar baru di timur.
Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan pembicaraan damai sekarang telah "mencapai jalan buntu".
Para pejabat mengatakan Rusia siap melancarkan serangan ke Donetsk dan wilayah tetangga Zaporizhia, tempat para pengungsi melarikan diri dari pertumpahan darah Mariupol.
Jika Mariupol jatuh, itu bisa membebaskan pasukan Rusia untuk serangan kedua. Namun, AS telah mengumumkan akan mengirimkan senjata tambahan senilai $800 juta, termasuk senjata artileri dan helikopter, untuk melawannya.
Di Kharkiv utara, kota kedua Ukraina, Rusia meningkatkan pemboman artileri di flat garis depan di distrik Saltivka.
Sedikitnya tujuh orang dikatakan tewas dan 22 lainnya luka-luka di provinsi Kharkiv yang lebih luas selama 24 jam sebelumnya.
Presiden Zelensky mengkhawatirkan pertumpahan darah tanpa akhir kecuali Barat mengirimkan senjata berat.
“Kami membutuhkan artileri berat, sistem pertahanan udara, dan pesawat tempur. Apa pun untuk mengusir pasukan Rusia,” ujar Zelensky.
Presiden Polandia, Estonia, Latvia, dan Lithuania melakukan perjalanan ke Kyiv kemarin untuk menunjukkan dukungan bagi pemimpin Ukraina dan mereka menghina Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier karena nyaman dengan Rusia.
Editor: Aspian Nur