Kurang dari empat tahun setelah misi tersebut, sebuah objek baru ditemukan di permukaan bulan oleh kamera panoramik dan inframerah yang menyerupai sebuah gubuk atau pondok dan jadi misteri besar.
Banyak orang bertanya-tanya bagaimana mungkin ada gubuk di bulan dan siapa yang membuatnya, sesuatu yang jadi misteri setelah penemuan itu terekspose ke media.
Namun misteri itu kini terungkap setelah gubuk atau pondok itu “didatangi” Yutu-2 untuk memperjelas temuan mereka
Yutu 2 mengkonfirmasi kalau gubuk atau pondok itu ternyata adalah batu berbentuk aneh yang mereka klaim terlihat seperti kelinci kecil yang hidup, meringkuk seperti patung yang dipasang di batu, dikelilingi serpihan batu dan potongan makanan.
Dilansir dari laman Dailymail.co.uk Selasa (11/1/2022) hari ini, mereka menamai batu itu dengan Kelinci Giok.
Tim Yutu 2 yang merupakan bagian dari China National Space Administration (CNSA) mempublikasikan pembaruan temuan mereka di situs media sosial China WeChat.
“'Gubuk misterius' setinggi Arc de Triomphe ternyata sangat kecil ketika didekati,” kata mereka.
Batu yang berserakan di depan Kelinci Giok tampak seperti potongan wortel, kata tim tersebut, sementara manik-manik batu bundar di belakangnya terlihat seperti kotoran yang sudah mengeras.
“Yutu 2 juga akan mendeteksi Kelinci Giok dari jarak dekat dan melihat kawah tumbukan besar di belakangnya,” tim menambahkan.
Ini bukan pertama kalinya penjelajah menemukan fitur bulan yang aneh karena pada bulan Februari 2021 lalu mereka menangkap gambar batu 'tonggak' memanjang di permukaan bulan.
Pada tahun 2019, hanya beberapa bulan setelah mendarat, Yutu 2 menemukan zat misterius 'seperti gel' berwarna hijau tua.
Tahun berikutnya, zat itu terungkap bukan gel sama sekali, tetapi senyawa mineral keras dan kaca yang telah meleleh dan terbentuk kembali pada panas tinggi oleh dampak asteroid kuno.
Yutu 2 telah melintasi bulan selebar 115 mil (186 km) sejak mendarat di bulan yang terhubung dengan pesawat ruang angkasa Chang'e-4 pada 3 Januari 2019.
Chang'e 4 adalah misi keempat China ke bulan dan yang kedua mengirim penjelajah. Misi Chang'e 1 dan 2 adalah pengorbit, sedangkan Chang'e 3 mendarat di sisi dekat bulan dengan penjelajah Yutu pertama.
Beijing juga meluncurkan Chang'e-5 pada November 2020 dengan tujuan mengembalikan sampel bulan pertama ke Bumi dalam lebih dari 40 tahun.
China juga baru saja menyetujui tiga misi lagi ke Bulan – Chang'e 6, 7 dan 8 – diluncurkan mulai tahun 2024 dan seterusnya.
Pada akhir Desember 2021, China menyetujui tiga misi lagi ke Bulan yaitu Chang'e 6, 7 dan 8.
Chang'e-6 akan menjadi misi pertama yang menjelajahi kutub selatan Bulan. Diperkirakan akan diluncurkan pada 2023 atau 2024. Chang'e-7 akan mempelajari permukaan tanah, komposisi, lingkungan luar angkasa dalam keseluruhan misi, menurut otoritas antariksa China, sementara Chang'e-8 akan fokus pada analisis permukaan teknis.
Chang'e-8 kemungkinan akan meletakkan dasar untuk ini karena berusaha untuk memverifikasi teknologi untuk proyek tersebut.
Editor: Aspian Nur