Rumah-rumah di Comfort Town selesai dibangun tahun 2019 silam dan sangat kontras dengan bangunan lain di sekitarnya.
Bangunan dicat dengan warna kuning cerah, hijau dan oranye dan merah muda, yang meliputi dinding luar dan atap.
Karena itulah banyak yang menyamakannya dengan bangunan lego atau seperti rumah dan hotel di mainan Monopoli.
Menurut Architecture Digest, empat desainer merancang bangunan yang menarik banyak perhatian ini, yaitu Dmytro Vasyliev, Aleksandr Popov dan Olga Alfiorova. Diperlukan waktu 11 tahun untuk menyelesaikannya dengan anggaran yang ketat.
Idenya adalah untuk menarik orang agar mau pindah ke kawasan tersebut dengan mengubah kawasan pemukiman yang luasnya 115 hektar, sekitar 1,5 kali luas Disneyland, menjadi sesuatu yang lebih indah.
“Satu-satunya yang harus kami kerjakan adalah warna. Kami menggunakan bahan paling sederhana, teknik paling sederhana. Kami benar-benar hanya memiliki warna dan garis kaki langit,” jelas Vasyliev dilansir dari LA Times Jumat (19/11/2021) hari ini.
Di kota tersebut berdiri kafe, toko dan kantor serta fasilitas olahraga luar ruangan yang besar serta 8.500 bangunan rumah flat.
Warna-warna cerah telah membuat pembeli rumah berduyun-duyun ke wilayah tersebut. Pada Februari 2020, dilaporkan lebih dari 200 rumah terjual per bulan, tertinggi di negara ini. Lebih dari 20 ribu orang tinggal di Comfort Town sekarang.
“Anda menyukainya atau Anda membencinya, tidak apa-apa karena yang terpenting tentu saja keindahan yang terlihat diluarnya,” kata Zhanna Rzhanova, juru bicara pengembang Comfort Town.
Ini bukan satu-satunya kota dengan bangunan warna-warni karena di sebuah kota resor kecil di Turki Barat juga ada bangunan yang mirip, dicat warna-warni.
Kota itu terletak di Kuşadası, lepas pantai Aegea, populer di kalangan wisatawan berkat kedekatannya dengan Ephesus, pelabuhan kapal pesiar yang sibuk bagi para pelancong.
Pulau Banwol di Korea Selatan juga memutuskan untuk mengecat bangunan disana dengan warna ungu agar sesuai dengan bunga lokal, campanula.
Sementara sebuah desa di Malaga menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahun berkat fakta setiap bangunan di sana dicat biru.
Editor: Aspian Nur