Wanita Ini Berperilaku Aneh Lima Hari Setelah Terpapar Covid-19
3 menit baca270 kali dibaca

KORANKALTIM.COM, DOHA – Sebuah kejadian aneh dialami seorang wanita berusia 30 tahun di Doha, Qatar, setelah terpapar Covid-19.
Wanita yang tak diidentifikasi secara terbuka itu berperilaku aneh imbas komplikasi virus mematikan itu.
Empat hari setelah dinyatakan positif Covid-19, keluarganya membawa si wanita ke rumah sakit karena merasa prihatin dengan kondisi yang dialaminya
"Dia gelisah, kurang tidur dan berbicara berlebihan," tulis dokter di British Medical Journal Case Reports dilansir dari laman Thesun.co.uk Kamis (4/11/2021) hari ini.
“Selain itu dia juga seperti orang bingung, berbicara dengan orang-orang yang tidak ada di sana (berhalusinasi), memanggil anggota keluarga dengan nama yang salah dan pada satu kesempatan melepas pakaiannya (telanjang) tanpa alasan. Saat pertama masuk rumah sakit, dia minum 100 mili liter sabun mandi, faktor yang membuat kerabatnya membawanya ke rumah sakit,” papar mereka.
Sementara Dokter di Doha menggambarkan wanita itu seolah "gembira" dan "terlalu aktif", tetapi "sebentar menangis" dan "sangat gelisah".
Setelah terus berkeliaran di rumah sakit dan meminta untuk pulang, pasien wanita itu diberi obat penenang dan psikiater didatangkan.
“Ketika dilihat oleh psikiater, dia melaporkan bahagia dan menginginkan perdamaian dunia,” kata laporan kasus itu.
“Meskipun dia kurang tidur selama beberapa hari, dia tidak lelah. Dia memiliki ide-ide keagamaan muluk yang percaya dia merasa memiliki 'kekuatan spiritual' khusus dari Tuhan yang dapat dia berikan kepada orang lain,” papar para dokter.
“Dia sebenarnya malu meminum sabun mandi sebelum masuk rumah sakit tapi menjelaskan dia menyukai bau dan rasanya. Dia menyangkal itu adalah upaya untuk melukai dirinya sendiri,” kata mereka lagi.
Wanita itu sebelumnya bersedia untuk tinggal di rumah sakit dengan total lima hari, meskipun petugas medis tidak dapat meyakinkannya dirinya sakit jiwa.
Namun di rumah sakit perilakunya menjadi lebih tidak terduga. “Pada satu kesempatan dia terlihat bernyanyi dan menceritakan lelucon kepada staf dan segera setelah itu menangis. Sehari setelah masuk, dia mencuci pakaiannya di toilet tetapi tidak dapat menjelaskan tindakannya. Pada kesempatan lain dia melaporkan halusinasi visual singkat, melihat burung di bangsal ketika tidak ada burung di sana,” papar dokter yang merawat si wanita tersebut.
Investigasi lebih lanjut mengungkapkan wanita itu mengalami pneumonia, peradangan paru-paru karena infeksi yang disebabkan oleh Covid-19, meskipun hanya melaporkan gejala batuk ringan dan kehilangan rasa dan penciuman.
Semua tes lain, termasuk pemindaian otak, kembali normal tapi penanda inflamasi semakin tinggi. "Diagnosis psikiatri lebih menantang," tim yang dipimpin oleh Profesor Peter Haddad, dari Departemen Psikiatri di Hamad Medical Corporation, menulis.
"Pasien menunjukkan fitur delirium dan mania pada presentasi yang berlanjut selama masa rawat inapnya," kata mereka.
Delirium biasanya menyebabkan kebingungan dan kurangnya kesadaran, sementara mania dikaitkan dengan euforia, suasana hati yang intens, hiperaktif dan delusi.
Dokter menyebut si wanita atau keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit mental, tidak minum alkohol dan menggunakan narkoba atau obat-obatan.
Masuk akal, kata mereka, peradangan yang disebabkan oleh virus menyebabkan masalah kejiwaan di otak.
“Covid 19 adalah penyebab delirium yang diakui dan juga telah dilaporkan terkait dengan mania tapi biasanya tidak terlihat pada pasien yang begitu muda,” kata Prof Haddad dan tim.
Delirium ditemukan sebagai gejala yang mempengaruhi hingga 15 persen orang dewasa dan 20 persen dari mereka yang berusia di atas 65 tahun, oleh para peneliti King's College pada aplikasi ZOE Covid Symptom Study.
Delirium hiperaktif dapat menyebabkan agitasi, kesusahan dan agresivitas, sedangkan delirium hipoaktif dapat menyebabkan seseorang menjadi menarik diri dan terkadang mengantuk.
Biasanya berlangsung sekitar dua hari, kata para ahli, dan sulit dikenali.
Untuk wanita yang tidak disebutkan namanya dalam laporan kasus tersebut, "episode"-nya berlangsung sekitar lima hari dan tindak lanjut beberapa bulan kemudian menyebutkan dia masih sehat.
Editor: Aspian Nur










