Belah atau terpotongnya batu ini selain memicu kebingunan para ahli juga menuai perdebatan di dunia media sosial, bahkan sampai ada yang menyebut batu itu dipotong oleh alien!.
Ahli geologi asal Bristol, Inggris bernama Cherry Lewis mengatakan potongan tepat di tengah bagian batu besat itu bisa saja terjadi karena ulah atau mungkin disebabkan oleh pelapukan dan erosi
Namun banyak orang menyatakan kalau alien sudah mengunjungi Arab Saudi ribuan tahun yang lalu setelah melihat gambar batu raksasa terbelah itu di media sosial karena potongan batu seperti dilakukan oleh sinar laser.
“Potongan batu itu bisa terjadi karena lapuk tepat di tengahnya yang membuatnya beku dan mencair,” kata Lewis, dilansir dari laman Dailymail.com Minggu (10/10/2021) hari ini.
Hanya saja banyak yang membantah teori itu karena melihat belahan batu itu terlalu mulus kalau disebabkan oleh factor alam.
Batu itu sendiri memiliki tinggi sekitar 30 kaki atau 9 meter dengan lebar 25 kaki atau setara dengan 7,6 meter dan telah dihiasi dengan petroglif - pahatan batu yang dibuat menggunakan pahat dan batu palu - yang tampak seperti manusia dan kuda.
Terkait pahatan itu pun menuai kontroversi karena ada yang menyebut dipahat oleh manusia namun ahli menyatakan terbentuk secara alami.
“Saya tidak mengatakan itu alien, tapi itu alien. Itu pasti alien,” tulis netizen di media sosial.
Spekulasi menyebutkan kalau batu itu terbelah karena sinar laser super dari alien yang diluar bumi yang tak sengaja mengenainya sehingga jadi terpotong dua.
Sementara teori lain menunjukkan peradaban kuno lebih maju dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal itu dibuktikan dengan sebuah video di YouTube yang menyatakan apa yang terjadi dengan batu itu adalah bukti awal sebuah teknologi tinggi.
Ada juga peneliti yang menyebut kalau batu itu sama dengan formasi dari pyramid Mesir kuno yang dibangun sekitar 4.500 tahun silam karena potongan batu di bagian tengah terlihat sama seperti memotong balok batu untuk piramida.
Ada juga yang menyebut celah diantara batu itu dibuat oleh seseorang dengan gergaji dengan penuh kesabaran.
Cherry Lewis mengatakan apa yang terjadi dengan batu itu karena factor alam
Lewis, yang merupakan peneliti kehormatan di Universitas Bristol, menggambarkan formasi yang tidak biasa itu sebagai sebuah pemandangan yang luar biasa.
“Batu raksasa yang terbelah itu terbentuk karena proses yang disebut pelapukan "beku-cair", saat air masuk ke celah kecil di batu. Saat suhu turun, air membeku dan mengembang yang menyebabkan retakan melebar dan memanjang,” ungkapnya.
'Saat es mencair, air masuk semakin dalam ke celah. Proses ini berulang selama ribuan atau bahkan jutaan tahun hingga akhirnya batu itu terbelah. Proses ini ditambah dengan erosi angin - yang, di lingkungan gurun, seperti ledakan pasir - juga bisa menjelaskan mengapa batu itu berdiri sendiri seperti itu,” ungkapnya.
Efek ledakan pasir menurut Lewis juga bisa jadi indikasi penyebabnya mengingat peradaban masa lalu menciptakan Stonehenge, batuan raksasa yang berdiri di Wiltshire, Inggris serta di Pulau Paskah, Spanyol dimana keduanya sepertinya dimungkinan dibuat oleh manusia
“Peradaban masa lalu menciptakan Stone Henge dan patung-patung di Pulau Paskah dengan peralatan paling dasar, tampaknya tidak mustahil bahwa itu bisa dibuat oleh manusia,” paparnya.
Ahli geologi dan geofisika Profesor Tim Reston dari Universitas Birmingham, Inggris juga berbagi pemikirannya tentang formasi batu aneh tersebut.
“Potongan batu itu mungkin merupakan sambungan, yang merupakan patahan alami pada batu yang biasanya disebabkan oleh pelepasan tekanan dan ekspansi, terbentuk ketika lapisan batu lebih kontinu dan dibiarkan terbuka karena factor erosi,” ujar Reston.
Sekadar diketahui, batu itu ditemukan oleh arkeologi Arab Saudi yang disebut berasal dari milenium ke-4 sebelum Masehi.
Kaya akan sejarah, Tayma adalah kediaman Raja Babilonia Nabonidus pada pertengahan abad ke-6 sebelum Masehi.
Oasis atau sumur air yang berada di jalur perdagangan dari Madinah modern ke al-Jawf, kemudian menjadi tempat populer bagi para pedagang.
Hamparan gurun dipetakan oleh Charles M Doughty pada tahun 1877 dari kunjungannya ke Oasis Tayma itu dalam bukunya tahun 1888 Travels In Arabia Deserta.
Daerah itu kemudian menarik penjelajah Prancis Charles Huber, yang mengunjungi situs tersebut pada tahun 1883 silam.
Editor: Aspian Nur