Kabar meninggalnya ulama yang menjadi panutan warga Banjar tersebut, beredar cepat di media sosial.
Almarhum dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 09.05 Wita setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di RSUD Hasan Basry Kandangan karena menderita sakit.
Usai dilakukan pemulasaraan oleh tim rumah sakit jenazah almarhum akan dibawa ke rumah duka.
Mengutip situs gurukapuh.com, Majelis Taklim Al-Hidayah terletak di Desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan ibukotanya Kandangan.
Majelis ini mulai membuka pengajian sejak tahun 2005 yang dipimpin oleh seorangulama yang cukup karismatik di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tapin yaitu KH Muhammad Ridwan bin Tuan Guru Hasan Baseri yang dikenal dengan sebutan Guru Ridwan atau Guru Kapuh.
Pengajian di tempat ini mulai ramai didatangi jamaah semenjak wafatnya Ulama karismatik Kalimantan Selatan K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul Martapura Kabupaten Banjar.
Kepergian Guru Sekumpul menyisakan kenangan yang sangat dalam di hati masyarakat Kalimantan Selatan khususnya, sehingga menimbulkan kerinduan akan petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang pernah ia sampaikan.
Untuk mengisi kekosongan inilah, murid-murid dari KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani tampil ke tengah masyarakat meneruskan perjuangan dakwah Sang Guru untuk memberikan pencerahan kepada umat dengan membuka majelis taklim atau pengajian di tempat masing-masing.
Sebagaimana diketahui bahwa KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani banyak memiliki murid-murid pilihan yang tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Selatan, seperti alm KH Ahmad Bakeri Gambut, KH Asmuni Danau Panggang, KH Bahran Jamil Barabai, KH Ahmad Juhdiannor Banjarmasindan sebagainya.
Mereka menyampaikan pengajian sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Sang Guru, baik dari segi materi maupun kitab yang dibacakan.
Salah satu murid dari KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang berdomisili di Kandangan adalah KH Muhammad Ridwan Baseri yang juga meneruskan jejak gurunya dalam berdakwah dengan membuka majelis taklim di Masjid dekat tempat tinggalnya secara umum dan terpusat di tempat itu, karena sebelumnya ia juga sudah mengisi pengajian di beberapa tempat baik langgar/musala dan tempat-tempat lainya, tapi hanya untuk kalangan terbatas jamaah langgar/musala tersebut.
Sejak tahun 2005 ia kemudian memutuskan untuk membuka pengajian yang terfokus di satu tempat yaitu di Masjid Al-Hidayah Desa Kapuh dan ia pun berhenti mengisi pengajian-pengajian kecil di seluruh langgar (musala) yang ada di Hulu Sungai Selatan, secara otomatis seluruh pengajian yang sebelumnya ia datangi di beberapa tempat menyatu di Masjid Al-Hidayah, sehingga pengajian yang ia adakan menjadi semarak dan Majelis Taklim tersebut diberi nama Al-Hidayah sesuai nama masjid tempat pengajian berlangsung
Sejak tahun 2005 hingga sekarang di Majelis Taklim Al-Hidayah telah menamatkan beberapa kitab yang sebagian besar berisi ajaran tasawuf dan sudah pernah diajarkan di pengajian Guru Sekumpul Martapura, karena menurut KH Muhammad Ridwan Baseri, tujuan membuka Majelis Taklim Al-Hidayah ini hanya untuk mengulang dan melanjutkan pengajian di Sekumpul. Sedangkan untuk saat ini kitab yang diajarkan dan wirid yang dibaca sebelum pembacaan kitab adalah :
a. Malam Jum’at membaca Kitab al-Hikamkarya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, yang didahului dengan pembacaan Burdah.
b. Sore Jum’at membaca Kitab Ihyâ Ulûm ad-Dînkarya Imam Al-Ghazali, yang didahului dengan pembacaan Ratib Al-Aththas.
c. Minggu pagi membaca Kitab Melayu Penawar Bagi Hati karya Syekh Abdul Qadir bin Abdul Mutholib Al-Mandili, yang didahului dengan pembacaan Maulid Simthu ad-Durar (Maulid Habsyi).
Selain itu, setiap bulan Rajab di Majelis Taklim Al-Hidayah juga dilaksanakan haul KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul), yaitu beberapahari setelah haul akbar di Sekumpul Martapura.
Sebagai pengisi acara adalah rombongan dari Sekumpul Martapura yang biasa mengisi pembacaan maulid dan tahlil pada acara haul KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani di Langgar Ar-Raudhah Sekumpul, kadang-kadang dihadiri pula oleh kedua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, Muhammad Amin Badali dan Muhammad Hafi Badali. Peringatan haul di tempat ini sudah berlangsung sejak haul pertama KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani hingga sekarang dan setiap tahun jamaah yang hadir semakin bertambah.
Penulis : diolah dari berbagai sumber
Editor : Bambang Irawan