Saat ini ekonomi pada triwulan III itu masih terkontraksi, tetapi tidak sedalam kontraksi pada triwulan II 2020. "Perekonomian lebih baik dibandingkan kuartal II 2020. Beberapa indikator di beberapa negara mengalami perbaikan. Namun masih terkendala karena adanya Covid-19," katanya.
Saat ini realisasi belanja negara (APBN) triwulan III mencapai Rp771,137 triliun. Sedangkan realisasi penanaman modak mencapai Rp209 triliun pada kuartal ketiga. "Realisasi APBN ini bisa membantu konsumsi rumah tangga," jelasnya.
Hal ini senada dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dimana Ia meramal ekonomi Indonesia di kuartal III-2020 akan kembali terkontraksi. Hal itu disampaikan Jokowi saat membuat Sidang Kabinet Paripurna.
"Kita tahu kemarin di triwulan 2 pertumbuhan ekonomi kita di angka -5,32persen. Di kuartal III-2020 ini kita juga mungkin sehari, dua atau tiga hari ini akan diumumkan BPS, juga masih berada di angka minus. Perkiraan kita angkanya -3persen naik sedikit," terang Jokowi.
Suhariyanto mengungkapkan biang kerok Indonesia masih mengalami kontraksi ekonomi, salah satunya konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2020 masih minus 4,04 persen. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat yang lesu di tengah pandemi.
"Konsumsi rumah tangga, pada kuartal III-2020 secara year on year memang masih terkontraksi 4,04 persen tapi tidak sedalam kuartal II minus 5,52persen," kata Suhariyanto.
Ada banyak indikator yang mencerminkan lemahnya pengeluaran rumah tangga. Mulai dari penjualan pakaian hingga bahan bakar yang mengalami penurunan.
"Industri tekstil dan pakaian jadi kontraksi 9,32 persen. Tetapi arahnya kontraksinya tidak dalam, untuk itu industri pengolahan secara keseluruhan terkontraksi 4,31persen yang tidak sedalam pada kuartal kedua," sebutnya. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di sindonews.com hari Kamis 4 November 2020 dengan judul Indonesia Resmi Resesi, BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III/2020 Minus 3,49persen