Dalam penghitungan terakhir, mereka menemukan bahwa alam semesta adalah 31,5 persen, plus atau minus 1,3 persen materi. Sisanya terdiri dari energi gelap, yang mengikuti secara dekat perhitungan yang ada. Tetapi tim memuji metodologi barunya, yang melibatkan pengukuran yang lebih langsung, sebagai bukti bahwa metodologi ini adalah perbaikan.
"Keuntungan besar menggunakan teknik (pengukuran) kami adalah tim kami dapat menentukan massa untuk setiap klaster secara individual daripada mengandalkan metode statistik yang lebih tidak langsung," kata rekan penulis studi Anatoly Klypin, astronom di New Mexico State University, dilansir di Futurism, Selasa (29/9).
Untuk memasukkan angka tersebut ke dalam konteks, para ilmuwan mengatakan bahwa jika setiap atom di alam semesta dipisahkan, dan diberi jarak yang sama, hanya akan ada enam yang ditemukan di setiap meter kubik volume.
"Namun, karena kita tahu 80 persen materi sebenarnya adalah materi gelap, pada kenyataannya, sebagian besar materi ini bukan terdiri dari atom hidrogen melainkan dari sebuah jenis materi yang belum dipahami oleh para kosmolog," kata rekan penulis studi dan fisikawan University of California, Mohamed Abdullah.
Editor : Bambang Irawan
Berita ini sudah tayang di republika.co.od hari selasa 29 September 2020 dengan judul : Ilmuwan Hitung Jumlah Materi di Alam Semesta