“Umumnya, kadar oksigen seseorang di atas 95%. Dalam kondisi ini, penurunan kadar oksigen tidak membuat penderita kesulitan bernapas,” papar Sumardi, spesialis penyakit dalam seperti diwartakan sindonews.com.
Individu yang terkena sindrom ini akan terlihat normal, maka itu sindrom ini juga dikenal dengan sebutan hypoxia senyap yang membuat penderita tiba-tiba lemas dan tidak sadar. Oksigen diperlukan tubuh supaya fungsi organ berlangsung normal. Umumnya kadar tekanan oksigen parsial arteri (PaO2) 75 hingga 100 mmHg.
Nah, hypoxia terjadi ketika PaO2 turun di bawah kadar normal, yaitu sekitar 40 - 65 mmHg. “Kondisi tersebut bisa mengancam nyawa,” kata Irandi Putra Pratomo dari Rumah Sakit Universitas Indonesia.
Irandi menjelaskan gejala happy hypoxia sulit dikenali karena tidak terlihat. “Pasien yang mengalami happy hypoxia tidak menunjukkan tanda kesulitan bernafas atau tanda lain yang mengisyaratkan terinfeksi virus corona. Pasien terlihat biasa saja tidak ada keluhan, tapi ketika diperiksa lebih detail kadar oksigen pasien turun di bawah kadar normal,” tambah Ketua Tim Klinis Satgas Covid-19 di RSUI ini.
Happy hypoxia pada Covid-19 perlu dipastikan dengan gejala lain seperti batuk, sesak, dan demam dan perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis paru. Happy hypoxia terjadi lantaran adanya penyumbatan di saluran pembuluh darah. Hal tersebut dikarenakan peradangan atau inflamasi pada pembuluh-pembuluh darah, terutama di paru-paru akibat kadar oksigen yang terus berkurang dalam tubuh.
Happy hypoxia yang tidak segera ditangani akan mengancam nyawa pasien Covid-19. Penyumbatan tersebut tidak hanya akan terjadi di paru-paru, tetapi bisa ke organ-organ lain seperti ginjal dan otak yang bisa berujung kematian. Pasien Covid-19 yang menderita happy hypoxia dan dirawat di rumah sakit dapat menjalani pemantauan kadar oksigen dalam darah dengan menggunakan alat pulse oximeter.
Alat ini berguna untuk mendeteksi kadar oksigen dalam darah bagi pasien Covid-19, termasuk pada kondisi pneumonia. Saat terjadi penurunan tingkat saturasi oksigen dibarengi dengan peningkatan cairan dan tingkat karbondioksida di paru.Kondisi ini membuat penderita sulit bernapas normal.
Sebaliknya, bagi pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala dan melakukan isolasi mandiri di rumah, dianjurkan untuk selalu memonitor kondisi tubuh. Pasien diminta waspada apabila muncul gejala tubuh tiba-tiba lemas, padahal tidak melakukan aktivitas yang mengakibatkan pengurangan energi maupun berolahraga.
“Kalau tiba-tiba merasakan lemas, tetapi makan dan minum masih biasa harus segera lapor ke rumah sakit. Lemas ini karena oksigen di organ berkurang jadi harus cepat ke rumah sakit agar bisa segera mendapatkan penanganan,” ucap Sumardi. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di sindonews.com hari Kamis 17 September 2020 dengan judul Waspadai Happy Hipoxia saat Covid-19 Menyerang