Jawa Timur misalnya Kementerian Kesehatan mencatat, ada total 23 ribu lebih kasus positif, dengan angka kematian hingga 1.700 kasus.
Virolog Universitas Udayana Dr Gusti Ngurah Kade Mahardika menjelaskan, gaya hidup orang Bali secara natural telah mengarahkan untuk mencegah dan memperkecil kemungkinan penularan Covid-19.
Arsitektur tradisional Bali, tak terkecuali hotel dan resort di pulau wisata itu, kebanyakan menerapkan konsep 'Outdoor Living'. Bahkan, toilet dan dapur pun dirancang dengan konsep alfresco atau tempat terbuka.
"Di Bali, tidak ada gedung apartemen. Ada asrama pelajar. Tapi sejak pandemi, kebanyakan pelajar pulang ke rumah masing-masing," kata Mahardika, dikutip Korankaltim.com, dari ABC News, Jumat (7/8/2020).
Sementara di Jakarta, kata Mahardika seringkali dijumpai orang menggunakan satu lift yang sama untuk sebuah gedung berisi beberapa lantai.
Padahal, Mahardika menyebut resiko penularan akan lebih tinggi pada ruangan tertutup, seperti lift.
Masih menurut Mahardika, tidak seperti kebanyakan provinsidi Pulau Jawa. Bali tak memiliki fasilitas transportasi publik massal, seperti Kereta Api, Bus besar, dan lainnya yang lazim ditemui di Jawa.
"Kepadatan penduduk di Bali, 700-800 orang per kilometer persegi. Sementara Jakarta, tentu lebih padat," tukasnya.
Hal ini, memungkinkan optimalnya upaya social distancing atau bahkan physical distancing, yang sulit dilakukan di Jakarta.
Editor : Rusdianto
*Berita/artikel ini, telah tayang di ABC News (abc.net.au) dengan judul "Corona Virus is Rampant in Java, But 2,4 km Across The Sea, Bali is Faring Much Better" pada Jumat (7/8/2020).