Atas kejadian tersebut, pihak berwenang Lebanon menangkap 16 orang. Sejauh ini, mereka sudah memeriksa lebih dari 18 petugas pelabuhan dan bea cukai serta individu yang bertanggung jawab atau terlibat dalam pemeliharaan gudang yang menampung bahan yang sangat mudah meledak. Bank Sentral Lebanon juga memerintahkan pembekuan rekening Kepala Pelabuhan Beirut, Hassan Koraytem, Direktur Jenderal Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, dan lima orang lainnya. Keputusan itu akan diedarkan ke semua bank dan lembaga keuangan di negara tersebut. Tak hanya itu, dilaporkan bahwa Jaksa Ghassan Oueidat juga memerintahkan pelarangan perjalanan pada tujuh orang tersebut.
Penderitaan Lebanon bakal panjang. Pasalnya, setelah tragedi tersebut, kini bencana yang lain masih mengancam yaitu pandemi Covid-19 yang juga melanda negara-negara lain di seluruh dunia ini. Menteri Kesehatan Lebanon memperingatkan ledakan besar sudah menghancurkan tempat penyimpanan pasokan medis di pelabuhan, serta empat rumah sakit utama. Hal itu membuat sistem kesehatan mereka menjadi rusak. Kondisi tersebut tentu saja rawan atas serangan Covid-19. Karena itu, dia memperingatkan kemungkinan adanya lonjakan kasus virus corona.
Kementerian Kesehatan Lebanon Kamis (6/8/2020) kemarin mengumumkan tambahan 255 kasus Covid-19 baru, rekor tertinggi sejauh ini. Ketika ledakan terjadi, Lebanon dilaporkan tengah menerapkan kebijakan lockdown kedua karena lonjakan infeksi virus Corona. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di viva.co.id hari Jumat 7 Agustus 2020 dengan judul "Usai Ledakan Beirut, Lebanon Masih Dihantui Ancaman COVID-19"