Di tempat yang sama, Sekretaris PB Mathla'ul Anwar Oke Setiadi meminta kepada semua pihak agar tidak mengaitkan peristiwa penyerangan Wiranto dengan pihaknya. Dia menegaskan Mathla'ul Anwar berasaskan Islam ahlusunnah wal jamaah yang mengakui Pancasila.
Mathla'ul Anwar juga tak hanya ada di Banten, melainkan di berbagai wilayah di Indonesia. Sudah mendapat pengakuan dari negara dan juga masyarakat. Bahkan dia mengklaim ada perwakilan Mathla'ul Anwar cabang luar negeri. Selain itu, Oke mengatakan Wiranto pun aktif di Mathla'ul Anwar sejak puluhan tahun yang lalu. Dia dipercaya sebagai dewan penasehat. Karenanya, Oke tak ingin ada isu negatif yang mengaitkan pelaku penyerangan Wiranto dengan Mathla'ul Anwar secara kelembagaan.
"Pelakunya juga bukan warga MA (Mathla'ul Anwar). Jadi jangan dikait-kaitkan dengan kami. Jika ada yang terpapar radikalisme, butuh juga penelitian. Jangan yang satu dua bulan bergabung (dengan MA), lalu di anggap bagian dari kami," kata Oke Setiadi seperti diwartakan CNNIndonesia.com.
Diketahui Wiranto diserang sepasang suami istri saat berkunjung ke Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten pada Kamis lalu (10/10/2019) lalu. Dia sempat dilarikan ke RSUD Berkah, Pandeglang, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta di hari yang sama.
Kepolisian menyatakan bahwa sepasang suami istri penyerang Wiranto diduga menganut paham radikal dan terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi. Mereka adalah Abu Rara dan Fitria Andriana. Sejauh ini keduanya ditahan di Mabes Polri.
Polda Metro Jaya, pada September lalu, juga sudah pernah menyebut Abu Rara dan Fitria Andriana. Mereka dinikahkan oleh seseorang bernama Abu Zee, pimpinan JAD Bekasi. Abu Zee sendiri sudah ditangkap pada September lalu lantaran diduga menyiapkan aksi teror menggunakan bahan peledak di Jakarta. (*)