"Coba perhatikan 5 tahun akhir industri penerbangan di Indonesia tidak ada pemain baru. Bahkan pemain lama berguguran atau konsolidasi. Misalnya Sriwijaya saja kode share dengan Garuda Indonesia. Industri penerbangan saat ini sudah mencapai tahap dewasa," kata Alvin seperti dikutip dari liputan6.com Kamis (15/11) pagi tadi
Bahkan, dia memperkirakan ke depan hanya ada dua maskapai sebagai pemain besar di dalam negeri yaitu Garuda Indonesia dan Lion Air. Sementara maskapai lainnya akan dipaksa situasi untuk konsolidasi.
Tidak hanya itu, tantangan lain yang harus dihadapi Merpati persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Merpati berencana menggunakan pesawat buatan perusahaan Rusia, jenis MC-21.
"Kemudian, dia bilang mau menggunakan pesawat Rusia. Pesawat Rusia ini kan daya tariknya rendah. Kan menyangkut kemantapan pengguna jasa. Pesawat Rusia saat ini track record safety-nya tidak bagus. Kita lihat airline Rusia menggunakan Airbus dan Boeing," tambah Alvien.
"Belum lagi kalau pakai pesawat buatan Rusia pilotnya mau dari mana. Kita itu tidak punya pilot dengan pesawat itu, juga SDM maintenance-nya. Makanya saya tidak yakin," Alvin melanjutkan.
Untuk itu, sampai saat ini pihaknya masih belum bisa memahami apa keuntungan bagi investor kembali menghidupkan kembali Merpati. "Dengan dana Rp 6,4 triliun logikanya mending buat perusahaan baru, tidak ada resiko hukum, tidak ada tanggungan kewajiban, dan sebagainya," pungkas Alvien. (*)