Kondisi air pasang tersebut memicu kemunculan satwa liar, terutama buaya muara berukuran hingga tiga meter, ke permukaan dan area yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat.
Kondisi air yang meluap memudahkan predator sungai lebih bebas di sela-sela tanaman, tepian sungai maupun area dermaga. Pemancing dinilai menjadi kelompok yang paling rentan karena kerap berada dekat permukaan air dalam waktu cukup lama.
“Saat memang air pasang, jarak antara daratan dan permukaan air jadi sangat tipis. Buaya bisa mengintai dari bawah permukaan tanpa terlihat jelas,” ujar Camat Muara Wis, Fadhli Annur, Senin (11/5/2026).
Ia mengingatkan kepada masyarakat khususnya para pemancing dan nelayan, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan oleh masyarakat, yakni disarankan untuk selalu bersama rekan agar ada yang memantau situasi sekitar. Aktivitas predator cenderung meningkat pada waktu subuh dan menjelang malam hari.
Kemudian, kurangi aktivitas seperti mencuci kaki, peralatan atau mandi di pinggir sungai saat kondisi air sedang pasang. Tidak membuang sisa ikan atau makanan ke sungai yang dapat mengundang buaya untuk mendekat.
Jika melihat keberadaan buaya dengan ukuran mencolok atau perilaku yang mengancam, warga diminta segera melapor ke pihak desa atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau relawan setempat.
“Sampai saat ini, kami belum menerima laporan insiden serangan buaya dalam ke warga. Kita harap tidak ada korban, masyarakat juga harus mematuhi aturan agar tak celaka. Mari bersama-sama menjaga keselamatan diri dan keluarga dengan tetap waspada serta mengikuti arahan dari pemerintah desa dan pihak terkait,” tutupnya.
Editor: Erwin