Peringatan setengah abad pengabdian pesantren tersebut diawali dengan apel dipimpin Ketua Yayasan H Achdar Rifai dan Sekretaris H Husni Thamrin, Jumat (8/5/2026) kemarin.
Achdar membacakan sejarah berdirinya pesantren yang didirikan pada tahun 1976 oleh H Achmad Dahlan, Bupati Kabupaten Kutai saat itu. Kehadiran pesantren menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan Islam yang terstruktur dan berorientasi masa depan bagi masyarakat Kutai Kartanegara.
Sementara itu, pembina upacara yang juga Kepala Kementerian Agama Kutai Kartanegara serta alumni PPKP Ribathul Khail Ariyadi F menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai kepesantrenan di tengah tantangan modernisasi.
Momentum Milad ke-50 juga ditandai dengan prosesi pengecoran cakar ayam pembangunan Asrama Putra 18 kamar dengan total anggaran mencapai Rp2,2 miliar. Prosesi tersebut dilakukan oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani dan sejumlah undangan unsur Forkopimda.
Pembangunan asrama itu menjadi simbol keberlanjutan perjuangan pesantren dari generasi pendiri hingga generasi penerus saat ini.
Ketua Panitia Milad, Wahidatuzzakiah mengatakan peringatan 50 tahun bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang silaturahmi, haul, doa bersama, hingga dialog kepesantrenan sebagai wadah konsolidasi gagasan dan penguatan jaringan alumni.
“Milad emas ini menjadi momentum menyatukan energi alumni dan keluarga besar pesantren untuk bersama-sama membangun masa depan lembaga,” kata Wahid dikonfirmasi Korankaltim.com, Sabtu (9/5/2026).
Dialog kepesantrenan menghadirkan sejumlah nara sumber, diantaranya Ust Nasrun Basri dari Ponpes Darul Ihsan Samarinda, Muhammad Idham yang merupakan anggota DPRD Kukar sekaligus alumni, serta Selamat Said Sanib, alumni MTs tahun 1985 yang dikenal sebagai public speaker, trainer, penulis, dan penyair.
“Reputasi lembaga tidak lahir dari klaim, tetapi dari rekam jejak sejarah, karya, dan kontribusi nyata alumninya. Branding pesantren harus dibangun melalui dokumentasi yang kuat dan narasi sejarah yang terstruktur agar semakin diakui publik,” ujar Selamat dalam dialog tersebut.
Nuansa reflektif juga mewarnai rangkaian Milad melalui penampilan seni dari Siti Rahmadaniah dan Gasto dari Kuarsa Mahakam yang membawakan karya bertajuk Aku Sebutir Hujan.
Ketua Majelis Alumni PPKP Ribathul Khail, Misran Tahrani, menyampaikan harapannya agar Milad ke-50 menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan semangat berkarya.
“Setengah abad perjalanan ini menjadi ruang menyambung silaturahmi dengan doa, merajut asa, dan mengukir karya emas bersama,” harapnya.
Puncak peringatan Milad 50 Tahun PPKP Ribathul Khail Timbau Tenggarong dijadwalkan berlangsung pada 10 Mei 2026 di lingkungan pesantren.
Editor: Aspian Nur