Pemerintah Desa bersama tim gabungan dari unsur kesehatan dan keamanan pun menggelar aksi pengendalian besar-besaran guna memutus rantai penyebaran hama, Senin (4/5/2026).
Serangan hama ini dilaporkan mulai mengganggu pemukiman warga sejak 14 hari lalu. Fenomena ini diduga diperparah oleh musim kemarau dan angin kencang yang membawa bulu-bulu halus dari pepohonan masuk ke area rumah hingga fasilitas pendidikan.
Sekretaris Desa Sepatin, Suardi, mengatakan dampak serangan ini telah membuat warga sekitar mengalami gatal-gatal hingga kulit memerah. Hingga saat kurang lebih 20 orang yang telah ditangani pihak kesehatan.
“Warga merasa sangat terganggu dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat mandi,” kata Suardi, Senin (4/5/2026).
Kondisi ini menjadi perhatian serius pihak desa, mengingat anak-anak sekolah saat ini tengah bersiap menghadapi ujian nasional. Keberadaan hama ini dikhawatirkan mengganggu konsentrasi belajar siswa jika tidak segera ditangani secara tuntas.
Menyikapi hal tersebut, pihak kesehatan dari puskesmas di wilayah tersebut juga telah turun langsung ke lapangan untuk memberikan penanganan awal. Meskipun belum ada warga yang perlu dirawat inap, pihaknya aktif memberikan edukasi dan mendistribusikan obat-obatan untuk meredakan gejala gatal dan panas yang dialami warga.
Sebagai langkah teknis di lapangan, tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BPP Anggana, Puskesmas, serta unsur TNI dan Polri melakukan penyemprotan pestisida secara masif memanfaatkan teknologi drone berkapasitas 20 liter untuk menjangkau populasi ulat di pepohonan tinggi yang berada di sekitar pemukiman.
“Penyemprotan ini merupakan langkah perdana sekaligus upaya agar wabah ini tidak separah kejadian tahun 2011 silam. Fokus utama kami adalah memastikan lingkungan kembali steril dan aman,” tegas Suardi.
Suhardi mengimbau masyarakat untuk sementara waktu membatasi aktivitas di area pepohonan yang menjadi sarang ulat bulu. Sinergi antara aparatur desa (BPD, LPM, Karang Taruna, RT) dan tokoh masyarakat diharapkan mampu mempercepat pemulihan lingkungan.
“Kami harap melalui penanganan cepat ini populasi ulat bulu segera musnah sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas normal dan para siswa dapat menempuh ujian nasional dengan tenang tanpa gangguan kesehatan,” tutupnya.
Editor: Erwin