Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, menjadi salah satu contohnya. Saat sebagian besar desa lain telah merasakan aliran listrik selama 24 jam, warga di kawasan pesisir ini masih harus hidup dengan keterbatasan energi dan tingginya biaya operasional.
Kondisi tersebut dipengaruhi letak geografis desa yang terisolasi, sehingga menyulitkan penarikan jaringan listrik konvensional oleh PLN.
Selama bertahun-tahun, kebutuhan listrik warga hanya bergantung pada mesin diesel yang beroperasi terbatas, sekitar 12 jam per hari.
“Masalahnya bukan cuma soal durasi yang terbatas, tapi biaya operasional solar yang sering kali memberatkan iuran warga. Sempat ada rencana pengadaan mesin diesel baru, tapi batal karena masalah kendala operasional solar tersebut,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, Selasa (28/4/2026).
Arianto menyebutkan, sebagai solusi atas permasalahan ini, pihaknya merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal pada 2026.
Kata dia, proyek ini diproyeksikan memakan biaya hingga Rp8 miliar agar warga bisa menikmati listrik 24 jam tanpa beban biaya bahan bakar yang tinggi. Namun, harapan warga Sepatin masih harus melewati satu tahapan lagi.
“Kami sedang menghitung analisis kemampuan anggaran. Jika hingga Juni nanti pendapatan daerah stabil dan tidak ada pengurangan anggaran, maka pembangunan PLTS di Sepatin segera dimulai,” jelasnya.
Kondisi berbeda dialami Desa Lamin Pulut dan Desa Lamin Telihan di Kecamatan Kenohan. Meski sempat merasakan gelap yang sama, kedua desa ini dijadwalkan akan segera mendapatkan pada Juni 2026 mendatang melalui sambungan listrik PLN yang telah tuntas pembangunannya.
Bagi warga Desa Sepatin, listrik bukan sekadar penerang di malam hari kunci untuk menggerakkan roda ekonomi pesisir, seperti pengolahan hasil laut yang selama ini terhambat minimnya daya listrik.
Kini, warga hanya bisa menanti apakah program di tahun ini benar-benar terlaksana atau terhambat.
Editor: Erwin