Diusia 28 tahun wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah 6 September 1997 ini dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Utama Radio Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (RPK), setelah melalui proses seleksi yang ketat dan kompetitif.
Farras menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Kota Tenggarong. Ia menempuh pendidikan dasar di SD 018 Tenggarong, kemudian melanjutkan ke SMP IT Nurul Ilmi Tenggarong dan SMK Negeri 1 Tenggarong. Ketertarikannya pada dunia komunikasi mengantarkannya ke bangku kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta pada 2015, dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, konsentrasi public relations atau komunikasi strategis. Ia berhasil meraih gelar sarjana pada 2019.
Karier profesionalnya dimulai dari langkah sederhana namun strategis. Farras memulai sebagai peserta magang di Avoskin di Yogyakarta. Hanya dalam waktu dua bulan, dedikasinya membuahkan hasil: ia direkrut sebagai karyawan tetap dan berkarier di perusahaan tersebut selama lima tahun, dari 2020 hingga 2025.
Di Avoskin, Farras memegang peran penting sebagai influencer dan media supervisor. Ia bertanggung jawab mengelola kerja sama dengan influencer serta membangun relasi dengan media. Dalam lingkungan brand lokal dengan jangkauan internasional, ia terbiasa menangani klien berskala besar, terutama yang berbasis di Jakarta.
Tidak berhenti di satu peran, Farras juga mengembangkan kapasitasnya melalui pekerjaan sampingan sebagai project manager di sebuah agensi kreatif di Tenggarong. Dalam peran ini, ia banyak terlibat dalam proyek-proyek kolaborasi dengan pemerintah, mulai dari perencanaan konten hingga memastikan eksekusi berjalan sesuai strategi sebelum diserahkan kepada instansi terkait.
Memasuki 2026, Farras melanjutkan kiprahnya sebagai marketing communications di brand lokal Susu Setia di Tenggarong. Di posisi ini, ia berfokus pada penguatan positioning brand, strategi branding, serta mendorong pertumbuhan bisnis melalui pendekatan komunikasi yang terarah.
Kesempatan baru datang ketika ia melihat pembukaan lowongan Direktur Utama RPK. Dengan latar belakang yang linier di bidang komunikasi strategis, Farras merasa posisi tersebut relevan dengan pengalaman yang telah ia bangun. Ia pun mengikuti serangkaian seleksi yang meliputi tes tertulis terkait regulasi dan kelembagaan, psikotes, hingga presentasi milestone dan wawancara di hadapan tujuh juri, termasuk dewan pengawas, direksi, psikolog, dan tim dari RRI Samarinda.
Pengumuman hasil seleksi pada 17 April menetapkan Farras sebagai kandidat terpilih. Pelantikan dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat, sekitar akhir April.
Bagi Farras, peran marketing communications yang selama ini ia jalani memiliki keterkaitan erat dengan kepemimpinan yang akan ia emban. Ia menekankan bahwa marketing bukan hanya soal penjualan, tetapi juga bagaimana membangun citra, meningkatkan awareness, serta menciptakan pertumbuhan berkelanjutan bagi sebuah brand.
Ke depan, Farras membawa visi untuk mengembangkan RPK melalui inovasi, kolaborasi, dan optimalisasi sumber daya. Ia merumuskan sejumlah misi, di antaranya menjadikan RPK sebagai lembaga yang mandiri dan berkelanjutan, serta mengembangkan peran sebagai creative hub di Kutai Kartanegara.
Menurutnya, RPK tidak hanya berfungsi sebagai media penyiaran, tetapi juga dapat menjadi pusat kreativitas yang melibatkan komunitas, pelaku UMKM, hingga sektor pendidikan. Melalui kolaborasi lintas sektor, ia berharap RPK mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
“Harapannya, masyarakat bisa tumbuh dan berkembang bersama RPK, bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang saling menguatkan,” kata Farras kepada Korankaltim.com Kamis (23/4/2026).
Langkah Farras Raihanna Fauziyya menjadi bukti bahwa kombinasi antara kompetensi, pengalaman, dan visi yang jelas dapat membawa generasi muda menuju peran strategis dalam pembangunan daerah. “Meskipun saya lahir di Semarang, yang pasti saya putri daerah asli Kutai Kartanegara. Dari Kukar untuk Kukar,” tutup Farras.
Editor: Aspian Nur