Edi, seorang petani menjelaskan, kekosongan BBM ini sering mereka rasakan saat hendak mengolah lahan pertaniannya menggunakan mesin pertanian (alsintan).
“BBM Solar besubsidi sangat sulit didapat, sementara kami sangat butuh sekali. Kebutuhan untuk sekali mengolah lahan sekitar 15-20 liter per hari. Kalau kapasitas besar bisa sekitar 30-40 liter," kata Edi kepada Korankaltim.com Rabu (22/4/2026).
Kalau para petani harus membeli BBM nonsubsidi, harganya sangat mahal dan tidak mampu membeli, sebab dalam mengolah lahan pertanian tidak cukup hanya dalam waktu sehari. "Biaya operasional petani ini sudah tinggi, jika kami menggunakan BBM non bersubsidi semakin bengkak biaya operasionalnya," sebut Edi.
Penyuluh pertanian diminta dapat memberikan solusi atas kendala tersebut. "Kami sudah sampaikan keluhan kepada penyuluh pertanian, tapi belum ada solusi yang diberikan," ungkapnya.
Pemerintah setempat diharapkan bisa segera menangani persoalan ini, karena untuk memudahkan kerja petani menggunakan alsintan, tentu harus menggunakan BBM.
Terkait hal itu Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Rifani menyatakan para petani bisa mengajukan permohonan kepada mereka karena hal serupa juga dialami oleh petani lainnya di Kukar, seperti Kecamatan Loa Kulu dan Tenggarong dan sudah mengajukan permohonan ke Distanak dan memberikan rekomendasi SPBU untuk penyaluran BBM. "Untuk para petani di wilayah Marang Kayu bisa mengajukan permohonan terkait akses permudah mendapatkan BBM," ujar Rifani.
Distanak Kukar akan memverifikasi terhadap petani yang mengajukan permohonan dan memberikan barcode untuk memudahkan perolehan BBM.
Editor: Aspian Nur