Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri Sejahtera, Salbiah mengatakan kondisi lahan seluas satu hektare miliknya hancur akibat aktivitas tersebut. Banjir besar itu terjadi pertama pada Februari 2025, membuat hancur semua fasilitas seperti selang drip dan mulsa, tepat dua pekan sebelum panen raya.
Tidak sampai disitu, musibah serupa kembali terjadi pada 11 Desember 2025, kondisi lahan jauh lebih parah dari sebelumnya. Lumpur bercampur pasir dan kerikil setinggi satu meter menimbun tanaman seperti lombok, terong, timun hingga ubi jalar yang telah siap panen. "Aliran sungai aktivitas mekanisasi lahan HTI di atas lahan kami membawa lumpur dan batu turun ke kebun. Dulu mereka tebang biasa saja karena akar masih ada. Sekarang didorong pakai mesin, dibikin terasering, saat hujan longsor semua ke bawah dan menghantam lahan kami," ungkap Salbiah kepada Korankaltim.com Rabu (8/4/2026).
Pihak perusahaan sempat memberikan santunan pada kejadian pertama, namun pada banjir kedua di akhir tahun, perusahaan berdalih bahwa musibah tersebut adalah faktor alam. Sebelum kejadian tersebut Salbiah mengaku mampu meraup penghasilan bersih hasil penjualan hasil pertanian itu sebesar Rp400 ribu hingga Rp600 Ribu per hari. Keuntungan tersebut juga bisa dibagi bersama 15 hingga 25 anggotanya yang bergantung hidup pada lahan itu
"4 bulan kami tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal biasanya ubi jalar saja bisa panen 4 sampai 5 ton sekali periode. Sekarang modal habis, fasilitas rusak, mesin traktor terendam, elektrik terbakar," ucapnya dengan nada sedih.
Sementara Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar mengaku telah menerima laporan itu dan memastikan tim penyuluh sudah mulai bergerak melakukan pendataan. Sekretaris Distanak Kukar Muhammad Rifani menyebut laporan mengenai gagal panen di Desa Senoni yang diduga dampak aktivitas HTI sudah masuk sekitar dua minggu hingga satu bulan yang lalu. "Sudah kami kerahkan anggota untuk datang ke sana, ini masih di kaji serta mendata kategorinya seperti apa, apakah berupa bantuan benih atau lainnya. Kami akan arahkan perhatian kesana dulu," ungkap Rifani.
Saat ini, Salbiah dan para ibu tani di Desa Senoni hanya bisa berharap adanya bantuan nyata berupa pupuk kandang dan perbaikan fasilitas penunjang. Mereka ingin lahan mereka kembali produktif agar dapur para anggota kelompok tani bisa kembali mengepul.
Editor: Aspian Nur