Bertindak sebagai imam sekaligus khatib Machnun Uzni yang juga Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur serta Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim.
Dalam khutbahnya, Machnun mengangkat tema “Pesan Kasih Sayang; Taqwa dalam Harmoni Keluarga dan Merawat Bangsa”. Idulfitri disebutnya bukan sekadar perayaan, melainkan momentum kembali kepada fitrah dengan memperkuat nilai ketakwaan yang berdampak pada kehidupan keluarga dan masyarakat luas.
“Ramadhan telah mendidik kita menjadi pribadi yang taat dan penuh empati. Kemenangan hari ini harus diwujudkan dalam sikap nyata, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia,” ujar Machnun dihadapan jemaah.
Ibadah puasa selama sebulan penuh bukan hanya melatih pengendalian diri, tetapi juga membangun kepedulian sosial. Nilai-nilai seperti kesabaran, keikhlasan, dan semangat berbagi harus terus dijaga setelah Ramadan berlalu.
Kualitas keimanan seseorang tidak hanya terlihat dari ibadah personal, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menebar kasih sayang dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. “Kesalehan individu harus diiringi dengan kesalehan sosial. Tidak sempurna iman seseorang jika ia kenyang sementara tetangganya kelaparan,” tegasnya.
Machnun juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan amal kebaikan. Ia menekankan bahwa salah satu tanda diterimanya ibadah Ramadhan adalah istiqamah dalam berbuat baik setelahnya.
Fenomena mudik jadi sorotan Machnun yang disebutnya sebagai bagian dari nilai luhur masyarakat Indonesia yang sarat makna silaturahmi. Perjalanan pulang kampung bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk nyata dari kerinduan, kasih sayang, dan upaya mempererat hubungan keluarga.
“Idulfitri adalah hari kasih sayang. Momentum untuk menyambung kembali hubungan yang sempat terputus, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kembali rasa hormat antara yang muda dan yang tua,” tuturnya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia mengajak umat Islam menjadikan nilai-nilai Idulfitri sebagai energi membangun kebersamaan dan kepedulian sosial. Ia menilai, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan karakter dan akhlak masyarakatnya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang dibangun dengan iman, taqwa, dan akhlak mulia. Dari keluarga yang harmonis akan lahir generasi penerus yang mampu memimpin dan membawa kebaikan bagi umat dan bangsa,” katanya.
Menutup khutbahnya, Machnun mengajak seluruh jemaah untuk terus menjaga semangat kebaikan, memperkuat silaturahmi, serta mendoakan para pemimpin agar mampu membawa Indonesia menjadi negeri yang damai dan penuh keberkahan.
Editor: Aspian Nur