Sekretaris Pengurus Pura Payogan Agung Kutai I Nyoman Sunarbawa menjelaskan, perayaan Nyepi bukan hanya satu hari hening, melainkan rangkaian panjang prosesi keagamaan yang sarat makna filosofis, dimulai sejak beberapa hari sebelumnya.
“Nyepi adalah momentum untuk kembali menyucikan diri, menjaga keseimbangan alam, serta memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan,” kata Sunarbawa Rabu (18/3/2026) malam tadi sesudah kegiatan pawai Ogoh-Ogoh, Rabu (18/3/2026).
Rangkaian Nyepi diawali dengan upacara Melasti, yakni ritual penyucian diri dan alam semesta. Dalam prosesi ini, umat Hindu membawa pratima atau simbol-simbol suci ke sumber air seperti laut atau sungai.
Melasti memiliki makna mendalam sebagai upaya membersihkan segala kotoran, baik secara fisik maupun spiritual, sehingga umat dapat memasuki hari suci Nyepi dengan hati yang bersih.
Sehari sebelum Nyepi, suasana berubah menjadi semarak dengan digelarnya pawai ogoh-ogoh. Patung raksasa yang menggambarkan Bhuta Kala atau sifat-sifat negatif ini diarak keliling sebagai simbol pengusiran energi buruk dari kehidupan manusia.
Di Kukar, pawai ogoh-ogoh menjadi ajang kebersamaan lintas generasi. Kreativitas pemuda dalam membuat ogoh-ogoh juga menjadi bagian penting dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat nilai gotong royong. “Ogoh-ogoh bukan sekadar seni, tetapi simbol bahwa sifat buruk dalam diri harus ‘dibakar’ dan ditinggalkan sebelum memasuki Nyepi,” jelas Sunarbawa.
Puncak perayaan adalah Hari Raya Nyepi yang ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yaitu empat pantangan utama yang wajib dijalankan umat Hindu selama 24 jam yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Selama Nyepi, suasana menjadi hening total. Aktivitas masyarakat dihentikan, bahkan penerangan dibatasi. Ini menjadi simbol perenungan mendalam untuk mengevaluasi diri dan kehidupan.
Setelah Nyepi, umat Hindu melaksanakan Ngembak Geni, yakni momen saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial. Hari ini menjadi awal baru untuk menjalani kehidupan dengan hati yang lebih bersih dan damai.
Seluruh rangkaian ini mengandung pesan universal yang relevan bagi semua kalangan. Dengan kekayaan makna spiritual dan budaya, perayaan Nyepi di Kukar tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga inspirasi tentang pentingnya keseimbangan hidup, toleransi, dan harmoni dalam keberagaman.
“Nyepi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, merenung dan memperbaiki diri. Ini bukan hanya untuk umat Hindu, tetapi nilai yang bisa diambil oleh siapa saja,” tutup Sunarbawa.
Editor: Aspian Nur