Pasalnya, ketiadaan lampu peringatan dan minimnya penerangan jalan membuat pembatas tersebut justru menjadi pemicu kecelakaan bagi pengguna jalan yang melintas.
Insiden terbaru menimpa warga Kecamatan Tenggarong, sekitar pukul 22.00 WITA, akibat menabrak barrier yang terpasang di jalur tersebut, dua orang dilaporkan menjadi korban dan mengalami kerugian materiil.
Ale Muhammad, pengendara motor yang jadi korban mengatakan, kondisi di lokasi kejadian sangat gelap karena tertutup rimbunnya pepohonan, sehingga keberadaan barrier plastik tersebut tidak terlihat oleh pengendara.
"Kaget saja tadi, kaki istri saya sampai memar kena barrier, lokasi itu tidak punya lampu dan bahaya sekali," kata Ale Kamis (12/3/2026).
Ale menekankan pentingnya aspek keselamatan dalam pemasangan pembatas jalan. "Kalau mau memasang barrier disitu, sertakan lampu emergensi agar terlihat dari jauh," tambahnya.
Nahasnya, selain mengalami luka fisik, dirinya harus kehilangan barang berharga saat insiden terjadi. Saat kembali ke lokasi untuk mencari barang yang terjatuh, ia mendapat informasi dari petugas keamanan di sekitar Jembatan Repo-Repo kejadian serupa bukan pertama kalinya.
"Tadi saya balik lagi cari jam tangan yang hilang pas kejadian. Kata satpam Jembatan Repo-Repo, sebelum saya tadi ada juga yang menabrak sampai jatuh orangnya, bahkan handphone-nya hilang," ungkapnya.
Instansi terkait baik Dinas Perhubungan (Dishub) maupun instansi lainnya diminta segera mengevaluasi penempatan barrier tersebut. Penambahan lampu rotary atau stiker reflektor sangat penting untuk dipasang guna mencegah adanya korban lainnya.
Diketahui, kerusakan jalan yang cukup signifikan terlihat di empat titik jalur protokol, yaitu di depan pos polisi lampu lalu lintas Timbau, Jembatan Repo-Repo, depan Markas Komando (Mako) Dinas Pemadam dan Penyelamatan (Disdamkar Matan) serta di kawasan kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar).
Editor: Aspian Nur