Aksi swadaya masyarakat ini dilakukan karena kondisi jalan yang dinilai sudah lama rusak dan belum mendapat penanganan serius dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) khususnya instansi terkait di bidang pekerjaan umum, padahal jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat karena menghubungkan dua kelurahan sekaligus menjadi jalur utama bagi aktivitas warga, mulai dari akses pertanian, mobilitas pelajar, hingga distribusi kebutuhan sehari-hari.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Muara Jawa Ulu Sebta Natanail menjelaskan, mereka sudah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan tersebut melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan namun hingga kini usulan tersebut belum juga masuk dalam prioritas penganggaran.
“Hampir setiap Musrenbang kecamatan kami selalu mengajukan proposal untuk kelanjutan pembangunan jalan ini, tetapi tidak pernah lolos untuk dianggarkan. Padahal jalan ini merupakan akses utama yang menghubungkan dua kelurahan, juga menjadi jalur pertanian, akses anak-anak sekolah dan kebutuhan masyarakat yang sangat mendesak,” kata Sebta kepada korankaltim.com, Kamis (12/3/2026).
Kondisi jalan semakin memprihatinkan ketika air laut pasang. Genangan air kerap menutupi badan jalan sehingga tidak bisa dilalui masyarakat. “Ketika laut pasang, jalan ini berubah seperti sungai. Masyarakat tidak bisa melintas bahkan buaya muara sering terlihat di tepi jalan menunggu mangsa,” keluhnya.
Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi keselamatan warga. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki jalan tersebut melalui pembangunan turap serta peningkatan badan jalan.
“Apakah jalan ini untuk masyarakat atau untuk buaya? Jangan sampai menunggu ada warga yang menjadi korban baru diperhatikan,” tegasnya.
Selama ini masyarakat terpaksa mengandalkan bantuan dari perusahaan di sekitar wilayah tersebut untuk mendapatkan material batu, alat berat, hingga bahan bakar solar. Bantuan tersebut biasanya dikumpulkan setiap beberapa bulan untuk mendukung kegiatan gotong royong warga memperbaiki jalan secara swadaya.
“Setiap tiga bulan kami seperti menjadi pengemis ke perusahaan untuk meminta bantuan material, alat berat dan solar. Selebihnya adalah gotong royong masyarakat,” ungkap Sebta.
Masyarakat Muara Jawa kecewa karena kurang mendapatkan perhatian dalam pembangunan daerah, meskipun wilayah tersebut turut menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor minyak dan gas, batu bara, serta industri lainnya.
“Sebagai kecamatan yang menyumbang PAD migas, batu bara, dan industri lainnya untuk Kutai Kartanegara, kami merasa seperti anak tiri yang tidak diperhatikan begitu lama,” ujarnya.
Bupati Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin diharapkan dapat segera merealisasikan aspirasi masyarakat, khususnya terkait pembangunan infrastruktur jalan yang menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Muara Jawa Ulu dan Teluk Dalam. “Semoga pak Bupati dan Wabup lebih peduli dengan warga di Muara Jawa Ulu dan Teluk Dalam, jangan kami dikesampingkan,” tutup Sebta.
Editor: Aspian Nur