Melalui inisiatif Karang Taruna setempat, puluhan pemuda mengikuti lomba balap lari yang digelar usai salat tarawih pada malam itu.
Ada 88 peserta yang berlomba, berasal dari pemuda Desa Jantur Induk maupun dari desa-desa tetangga di sekitar wilayah Kecamatan Muara Muntai.
Uniknya, lintasan lomba tidak menggunakan jalan aspal seperti umumnya. Panitia memilih trek jembatan ulin yang berada di kawasan depan Kantor Desa Jantur Induk. Jalur tersebut dipilih karena mencerminkan kearifan lokal desa yang sebagian besar akses jalannya memang dibangun menggunakan jembatan kayu ulin.
Ketua Karang Taruna Desa Jantur Induk Ramadani mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk menghadirkan aktivitas positif bagi generasi muda selama bulan Ramadan, sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar pemuda desa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya lomba ini terutama kepada pemerintah desa dan para sponsor yang ikut membantu sehingga kegiatan ini bisa berjalan meriah,” ujar Ramadani dikonfirmasi Korankaltim.com, Senin (9/3/2026).
Lomba sengaja digelar setelah salat Tarawih hingga menjelang sahur agar para pemuda memiliki kegiatan yang bermanfaat sekaligus menyenangkan. “Kegiatan ini juga menjadi alternatif hiburan sehat bagi warga yang menunggu waktu sahur,” tambahnya.
Selain mendapat dukungan dari pemerintah desa, kegiatan tersebut juga disokong oleh sejumlah pihak, termasuk sponsor yang turut mendukung pelaksanaan acara serta dukungan dari anggota DPRD Kutai Kartanegara Sopan Sopian.
Kepala Desa Jantur Induk Abdul Ajis mengapresiasi inisiatif Karang Taruna yang mampu menghadirkan kegiatan positif bagi para remaja di desa. “Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini. Selain menyehatkan, juga menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk berkumpul dan menyalurkan energi mereka ke hal yang positif,” kata Ajis.
Lomba balap lari di atas jembatan ulin itu pun menjadi tontonan menarik bagi warga yang turut memadati area sekitar lintasan. Dengan suasana Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan, kegiatan tersebut diharapkan jadi agenda tahunan desa.
Helmy, seorang peserta lomba mengaku senang bisa mengikuti perlombaan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga mempererat kebersamaan antar pemuda.
“Seru sekali, apalagi lombanya diadakan malam hari setelah tarawih. Selain bisa olahraga, kami juga bisa kumpul dan meramaikan suasana Ramadan di desa,” kata Helmy.
Editor: Aspian Nur