Hingga Sabtu (7/3/2026 dini hari tadi, keberadaan Sabran bin Ahmad yang telah hilang sekitar 18 hari masih menjadi misteri.
Pencarian terbaru dilakukan dengan melibatkan tim supranatural dari Kabupaten Paser, Borneo Ghost Hunter (BGH) TV, yang datang memenuhi undangan warga dan keluarga Sabran. Pencarian dimulai Jumat (6/3/2026) malam tadi sekitar pukul 23.00 WITA dan berlangsung hingga pukul 01.30 WITA di kawasan hutan tempat Sabran terakhir diduga berada.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, tim belum menemukan tanda-tanda keberadaan Sabran. Selama proses pencarian, tim mengaku mengalami sejumlah interaksi dan gangguan yang diyakini berasal dari hal-hal tak kasat
mata di area hutan tersebut. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berusaha membantu keluarga yang masih berharap kabar baik.
Proses pencarian dilakukan dengan berbagai metode supranatural yang dikombinasikan dengan masukan dari tokoh kampung, tokoh Kutai Lampong, serta saran para pemirsa yang mengikuti siaran langsung melalui TikTok Borneo Ghost Hunter TV.
Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari relawan Damkar Jaya Mangku Kelurahan Loa Tebu, masyarakat setempat, serta keluarga dekat Sabran.
Pemimpin tim BGH TV Bacang menyampaikan, dari upaya yang dilakukan, tim memperoleh sejumlah petunjuk mengenai kemungkinan kepulangan Sabran.
“Bisa pulang dengan selamat di antara tiga waktu, yakni setelah waktu Subuh, setelah waktu Zuhur, atau setelah waktu Asar. Namun jika beliau sudah meninggal, biasanya akan ada petunjuk melalui mimpi kepada keluarga terdekat untuk menunjukkan keberadaan jasadnya,” ujar Bacang kepada warga sebelum menutup kegiatan pencarian.
Selain itu, tim juga mendapatkan isyarat pencarian bisa dilakukan melalui pendekatan adat dengan menggelar ritual Belian.
Ritual Belian merupakan tradisi sakral yang dikenal di kalangan masyarakat Dayak, khususnya suku Benuaq, Tunjung, dan Paser di Kalimantan. Upacara ini biasanya digunakan sebagai ritual pengobatan tradisional, penolak bala, maupun permohonan keselamatan. Prosesi tersebut dipimpin oleh seorang pemelian atau dukun dengan rangkaian mantra, tarian, dan sesajian.
“Belian itu biasanya dilakukan selama enam hari enam malam dan memerlukan biaya puluhan juta rupiah. Namun yang terpenting sekarang kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga Sabran segera kembali karena sudah cukup lama beliau menghilang,” kata Bacang.
Di sisi lain, keluarga Sabran menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan berbagai pihak yang telah membantu proses pencarian. Salah satu kerabat, Mbok Beran, mengaku terharu atas kepedulian tim BGH TV yang datang langsung dari luar daerah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan dari Borneo Ghost Hunter yang sudah jauh-jauh datang membantu mencari paman kami. Semoga beliau segera kembali dan bisa ditemukan,” ujarnya.
Hingga saat ini keluarga dan masyarakat sekitar masih terus berharap Sabran bin Ahmad dapat ditemukan, baik melalui pencarian lanjutan maupun petunjuk lain yang mungkin muncul. Doa dan dukungan dari berbagai pihak terus mengalir agar pria tersebut dapat segera kembali ke tengah keluarganya.
Editor: Aspian Nur