Ajakan tersebut bukan sekadar pergantian istilah, melainkan bagian dari upaya meneguhkan identitas budaya di tengah derasnya arus pengaruh luar. Selama ini, istilah “ngabuburit” yang berasal dari budaya Sunda telah digunakan secara luas di berbagai daerah, termasuk di Kutai.
Namun, menurut Awang, penggunaan istilah tersebut dinilai kurang tepat jika dilihat dari konteks kebahasaan Kutai. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan istilah lokal sebagai bentuk pelestarian bahasa daerah sekaligus penguatan identitas budaya.
“Nyeranting Bulan berasal dari nama binatang ‘Seranting Bulan’, serangga yang mengeluarkan dengungan nyaring saat peralihan waktu siang ke malam. Dahulu, suara itu menjadi semacam alarm alami bagi masyarakat untuk bersiap berbuka puasa,” ujar Awang kepada Korankaltim.com, Rabu (25/2/2026).
Dengungan Seranting Bulan, lanjutnya, merupakan penanda waktu yang lekat dengan kehidupan masyarakat Kutai tempo dulu. Saat azan belum mudah terdengar dari pengeras suara seperti sekarang, suara alam menjadi petunjuk penting. Tradisi itu kemudian menginspirasi lahirnya istilah “Nyeranting Bulan”, yang secara filosofis bermakna menanti datangnya magrib.
Awang menegaskan, dalam penjelasan bahasa Kutai, istilah “ngabuburit” bahkan memiliki makna berbeda yang tidak relevan dengan aktivitas menunggu waktu berbuka. Karena itu, penggunaan istilah lokal dinilai lebih sesuai sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap warisan leluhur.
Senada dengan itu, salah seorang pemuda Kutai penggiat budaya, Muhammad Rizky Raihansyah menyebut “Nyeranting Bulan” bukan sekadar padanan kata, melainkan representasi kearifan lokal masyarakat Kutai dalam menyambut Ramadan.
Ia menggambarkan, tradisi Nyeranting Bulan akan terus hidup melalui beragam aktivitas positif menjelang berbuka, mulai dari berkumpul bersama keluarga, berburu kuliner khas Ramadan, hingga memperbanyak ibadah.
“Nyeranting Bulan mencerminkan kebersamaan dan kesabaran. Esensinya sama dengan menunggu waktu berbuka di daerah lain, tetapi memiliki ruh budaya Kutai yang khas,” jelasnya.
Ke depan, istilah ini diharapkan tak hanya digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga dalam pemberitaan media, kegiatan publik, hingga berbagai agenda resmi selama Ramadan di wilayah Kutai. Dewan Bahasa dan Sastra Kutai pun mendorong generasi muda untuk mulai membiasakan penggunaan istilah tersebut.
Langkah ini diproyeksikan menjadi simbol kebanggaan daerah sekaligus pengingat bahwa bahasa dan budaya lokal tetap relevan di era modern. Dengan menghidupkan kembali kosakata warisan leluhur, masyarakat Kutai diharapkan semakin percaya diri menjaga identitasnya di tengah keberagaman budaya Nusantara.
“Jika upaya ini konsisten digelorakan, bukan tidak mungkin pada Ramadan-Ramadan mendatang, masyarakat Kutai tak lagi mengenal istilah “ngabuburit”. Sebagai gantinya, “Nyeranting Bulan” akan berkumandang menjadi suara budaya yang kembali menemukan ruangnya di tanah etam Kutai sendiri,” ucapnya.
Editor: Erwin